Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1 persen pada Selasa, 16 Juni 2026.

Keputusan ini diambil untuk menormalisasi kebijakan moneter dan meredam tekanan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi global akibat perang di Iran.

>>> Lionel Messi Ungkap Alasan Menangis di Piala Dunia 2026

Kenaikan uncollateralized overnight rate dari level 0,75 persen ini membawa suku bunga Jepang ke tingkat tertinggi dalam tiga dekade terakhir.

Selama dua puluh tahun sebelumnya, suku bunga dipertahankan mendekati nol untuk melawan deflasi.

Langkah pengetatan ini diambil di tengah pemulihan ekonomi domestik, meskipun lonjakan harga minyak mentah akibat situasi Timur Tengah berisiko menekan keuntungan perusahaan dan pendapatan rumah tangga.

Deputi Gubernur BOJ Shinichi Uchida menggantikan Gubernur Kazuo Ueda yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat kista hati yang terinfeksi untuk memimpin konferensi pers hasil rapat dewan kebijakan.

"Saya merasa sedih atas ketidakhadirannya, tetapi itu tidak mempengaruhi kemampuan kami dalam menetapkan kebijakan," kata Shinichi Uchida.

Uchida menambahkan bahwa kondisi kesehatan Ueda diperkirakan tidak memerlukan rawat inap yang lama dan pandangan sang gubernur telah dipahami sepenuhnya dalam pengambilan keputusan.

Selain memantau pergerakan mata uang yen yang melemah di kisaran 160 per dolar AS, ia menegaskan bank sentral akan terus melanjutkan tren kenaikan suku bunga secara bertahap.

Sebelumnya, Gubernur Kazuo Ueda sempat menyampaikan pandangannya mengenai arah kebijakan moneter Jepang dalam sebuah pernyataan resmi pada awal bulan ini.

"Bahkan jika situasi masih belum jelas, jika dinilai bahwa risiko kenaikan harga lebih besar daripada risiko penurunan aktivitas ekonomi, maka perlu dibahas secara menyeluruh pro dan kontra dari kenaikan suku bunga kebijakan," kata Kazuo Ueda.