Data ekonomi menunjukkan harga grosir Jepang melonjak lebih dari 6 persen pada Mei dibandingkan tahun lalu, yang menjadi laju tercepat dalam tiga tahun.

>>> Kategori Rahasia Kucing: Anda Dianggap Sebagai 'Ibu Raksasa'

Meskipun demikian, tingkat inflasi keseluruhan pada April sebesar 1,4 persen masih di bawah target 2 persen milik bank sentral.

Pakar ekonomi Jepang Jesper Koll memberikan analisisnya kepada BBC terkait pergeseran siklus ekonomi yang sedang dialami oleh negara tersebut.

"Setelah dua puluh tahun deflasi, Jepang sekarang berada dalam siklus inflasi yang meningkat," kata Jesper Koll.

Koll menilai kebijakan moneter darurat atau manajemen krisis sudah tidak lagi dibutuhkan karena BOJ ingin kembali ke kebijakan moneter yang normal.

Di sisi lain, Profesor bisnis University of California San Diego Ulrike Schaede memberikan pandangan mengenai sentimen nilai tukar yen terhadap mata uang utama dunia lainnya.

"Ada perasaan bahwa yen terlalu murah dan menaikkan nilai tukarnya tidak akan merugikan," kata Ulrike Schaede.

Menurut Schaede, penyesuaian yang sedang terjadi saat ini bisa menjadi sinyal adanya penyelarasan kembali ekonomi global secara perlahan.

"Apa yang kita lihat bisa menandakan 'penyelarasan kembali global yang lambat'," kata Ulrike Schaede.

Pasar saham merespons kebijakan ini dengan fluktuasi.

Indeks Nikkei 225 di Tokyo sempat melesat melampaui angka 70.000 pada Selasa pagi sebelum akhirnya ditutup menguat tipis 0,1 persen.

>>> Maxime Pellegrini Targetkan Main di Liga Basket Amerika EYBL

Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang dikenal mendukung peningkatan pengeluaran negara, sejauh ini belum melontarkan kritik terbuka terhadap langkah BOJ menaikkan suku bunga sejak dirinya menjabat tahun lalu.