Tekanan ekonomi ini dirasakan langsung oleh Jenny (25), seorang karyawan swasta yang menilai situasi keuangan saat ini cukup memprihatinkan.

Faktor utamanya adalah penyesuaian harga BBM non-subsidi jenis Pertamax yang memicu kekhawatiran sistemik.

"Kan berdampak ke pembelian BBM harian, terus harga-harga lainnya juga nanti takutnya naik," kata dia kepada Kompas. com, Rabu (17/6/2026).

Jenny mengaku bermigrasi menggunakan Pertamax karena kondisi finansial pribadinya sempat membaik, namun lonjakan harga terbaru justru membebani pengeluaran bulanannya.

Sebagai perantau, ia juga mengeluhkan tarif akomodasi udara yang melambung tinggi hingga menyulitkan mobilitas antardaerah.

"Harga tiket pesawat sampai dua kali lipat, jadi kalau mau pulang kampung berpikir 10 kali, kalau mau healing juga jadi ngerem karena (harga tiket) tidak masuk akal," ucap dia.

Sementara itu, Amara (25) yang juga bekerja sebagai pegawai swasta mengonfirmasi adanya penurunan daya beli dibanding periode tahun lalu.

"Keliatannya lebih susah, tidak yang buruk banget dampaknya ke aku," ucap dia.

Meskipun demikian, ia sepakat bahwa atmosfer perekonomian saat ini terasa jauh lebih berat ketimbang situasi pada awal tahun.

Ketiadaan Dana Darurat Menjadi Ancaman

Survei finansial ini juga menyoroti kerentanan ketahanan modal masyarakat, di mana 59,9 persen responden mengaku tidak siap menghadapi risiko resesi karena tidak memiliki tabungan darurat.

Hanya 37,1 persen masyarakat yang merasa memiliki bantalan keuangan cukup untuk menghadapi potensi pemburukan ekonomi di sisa tahun ini.

Secara internal, 47,7 persen responden mengkategorikan kondisi keuangan keluarga mereka dalam status tidak menentu (unsettled).

>>> Prapendaftaran SPMB 2026 di Jakarta Dibuka 19 Mei

Di sisi lain, hanya 28,1 persen responden yang merasa keuangan domestiknya terkendali (calm), dan 14,6 persen yang mengklaim fondasi ekonominya kokoh terjaga (stable).