Meski kerap menjadi bahan lelucon, warga Pentil tidak pernah berpikir untuk mengubah nama dusun tersebut. Bagi mereka, nama Pentil merupakan warisan leluhur yang harus dijaga.

"Sudah dari nenek moyang dulu. Tidak ada usulan ganti nama," imbuh Sumijan.

Tradisi Nazar di Pasar Pentil

Di balik nama yang unik, terdapat tradisi yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat.

Di Dusun Pentil terdapat pasar tradisional yang telah ada sejak lama, dikenal sebagai Pasar Pentil.

Pasar itu bukan sekadar tempat transaksi jual beli. Bagi sebagian warga, Pasar Pentil memiliki nilai simbolis yang berkaitan dengan ritual nazar atau kenduri.

Menurut Sumijan, seseorang yang memiliki hajat tertentu terkadang bernazar akan menggelar kenduri apabila keinginannya terkabul.

Salah satu syarat yang dipercaya turun-temurun adalah menggunakan jajanan pasar yang dibeli dari Pasar Pentil.

"Ada yang kendurinya di lokasi pasar, ada juga yang di rumah. Tetapi berkat atau ambengnya menggunakan jajan pasar dari Pasar Pentil," jelasnya.

Tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan warga Gunungsari, tetapi juga masyarakat dari desa-desa sekitar.

Cerita serupa disampaikan warga Desa Babadan, Kecamatan Kaliori, Masudi. Ia mengaku keluarganya pernah menjalankan nazar yang berkaitan dengan Pasar Pentil.

>>> Indonesia Harus Perkuat Hilirisasi Mineral Kritis Demi Ekonomi Hijau

"Ibu saya pernah bernazar, kalau punya menantu akan mengadakan kenduri dengan jajan pasar dari Pasar Pentil. Memang kepercayaan warga sekitar seperti itu," tutur Masudi.