Tradisi pulang ke kampung halaman menjelang hari besar keagamaan atau kebudayaan menjadi fenomena tahunan di berbagai belahan dunia.

Perjalanan jauh ditempuh demi bisa berkumpul kembali bersama keluarga besar di daerah asal.

>>> Iran vs Selandia Baru Imbang 2-2 di Laga Perdana Grup G Piala Dunia 2026

Di Indonesia, aktivitas ini sangat lekat dengan momen menjelang Idulfitri.

Namun, fenomena serupa dalam skala yang jauh lebih masif terjadi di China melalui tradisi yang dikenal sebagai Chunyun.

Chunyun merupakan pergerakan massal masyarakat yang berlangsung sebelum dan sesudah perayaan Tahun Baru Imlek. Periode perpindahan penduduk ini umumnya berjalan selama sekitar 40 hari.

Para perantau di kota-kota besar China akan berbondong-bondong pulang ke desa asal mereka.

Pola pergerakan ini serupa dengan mudik Lebaran di Indonesia, namun memiliki skala kuantitas yang jauh lebih masif.

Penyebab Chunyun Menjadi Mudik Terbesar di Dunia

Volume perjalanan tahunan selama periode Chunyun luar biasa besar, mencapai 2 hingga 3 miliar perjalanan. Mobilisasi ini mencakup moda transportasi bus, kereta api, pesawat terbang, hingga kendaraan pribadi.

Fenomena ini menimbulkan tekanan berat pada sistem transportasi massal. Lembaga seperti China Railway bahkan harus mengoperasikan ribuan perjalanan kereta api ekstra demi mengurai lonjakan penumpang.

Nilai kekeluargaan yang mengakar kuat menjadi motor penggerak utama. Momen ini menjadi waktu krusial untuk melakukan reuni keluarga serta memberikan penghormatan kepada orang tua dan leluhur.

Durasi pelaksanaan tradisi ini memakan waktu yang cukup panjang hingga lebih dari satu bulan. Hal tersebut menjadikannya sebagai migrasi manusia tahunan paling masif di planet bumi.

Kompleksitas mobilisasi mudik Idulfitri di Indonesia memang sangat tinggi, tetapi volume pergerakan totalnya masih berada di bawah angka Chunyun.