Meta Platforms Inc kini berada di persimpangan jalan. Setelah menginvestasikan dana besar untuk mengejar ketertinggalan di bidang kecerdasan buatan (AI), perusahaan dituntut membuktikan hasil finansial.

Sekitar setahun lalu, CEO Mark Zuckerberg merekrut pakar AI Alexandr Wang melalui kesepakatan senilai USD 14 miliar atau sekitar Rp 248 triliun.

>>> Pedro Acosta Kagumi Kebangkitan Marc Marquez Juara MotoGP 2025

Wang, yang kini berusia 29 tahun, memimpin Meta Superintelligence Labs.

Dana tersebut dialokasikan untuk Scale AI, perusahaan rintisan yang didirikan Wang. Beberapa insinyur dari Scale AI juga diboyong untuk memperkuat lini teknologi Meta.

Hasil kerja keras Wang terlihat pada April lalu dengan peluncuran model AI bernama Muse Spark.

Produk ini berhasil mengembalikan posisi Meta dalam persaingan global, meski masih di belakang OpenAI, Anthropic, dan Google.

Namun, inovasi tersebut belum berdampak langsung pada pendapatan. Tantangan utama Zuckerberg kini adalah mengonversi pencapaian teknis menjadi keuntungan bisnis.

"Meta perlu memberi lebih banyak bukti nyata terkait adopsi maupun komersialisasi.

Investor menantikan Meta memonetisasi produk baru yang mengutamakan AI," ujar Ralph Schackart, analis di William Blair, dikutip dari CNBC.

Respons pasar saham belum positif.

Nilai saham Meta merosot 18% dalam 12 bulan terakhir, meskipun perusahaan melaporkan lonjakan pendapatan 33% pada triwulan pertama.

Perjalanan Meta di industri AI sempat diwarnai strategi keliru saat merilis model Llama berbasis open source. Sistem gratis yang memungkinkan modifikasi justru berujung hasil kurang memuaskan.

>>> Sering Dianggap Sepele, 5 Keluhan Ini Jadi Tanda Awal Penyakit Ginjal

Kegagalan total terjadi saat Llama 4 diluncurkan pada April 2025 karena tidak mampu menarik minat pengembang.