Aktivitas digital jutaan pemain Pokémon Go di seluruh dunia dalam berburu monster virtual berpotensi membantu navigasi drone militer.

Data pemindaian lokasi dari para pengguna gim tersebut kini dikembangkan untuk memandu drone di wilayah konflik atau zona perang.

>>> Harga XRP 17 Juni 2026 Turun 1,86% ke 1,21 Dolar AS

Sebuah laporan terbaru mengungkapkan model kecerdasan buatan (AI) dilatih menggunakan data pemindaian visual tersebut.

Teknologi ini menjadi solusi vital di medan perang modern saat sinyal satelit atau GPS mengalami gangguan (jamming) dan pemalsuan (spoofing).

Pemanfaatan data ini bermula dari pembaruan gim pada 2021.

Pengembang gim memberikan imbalan bagi pemain yang bersedia memindai lokasi dunia nyata tempat PokéStops berada menggunakan kamera ponsel mereka.

Melalui fitur sukarela tersebut, terkumpul miliaran data pemindaian visual dari monumen, taman, hingga fasilitas publik.

Data historis yang melimpah ini kemudian digunakan oleh Niantic Spatial untuk melatih foundation model AI.

Niantic Spatial merupakan perusahaan pecahan dari pengembang asli gim tersebut.

Pengembangan model AI ini bertujuan agar sistem mampu mengenali dan memetakan ruang fisik 3D secara presisi di dunia nyata.

Pada Desember tahun lalu, Niantic Spatial mengumumkan kemitraan dengan Vantor. Perusahaan perangkat lunak tersebut berfokus pada teknologi deteksi spasial pertahanan dan militer.

>>> Harga Emas Antam 17 Juni 2026 Naik Rp 4.000, Kini Rp 2.733.000 per Gram

Kolaborasi ini bertujuan menggabungkan sistem penentuan posisi visual berbasis darat milik Niantic dengan perangkat lunak drone milik Vantor.

Melalui integrasi ini, sistem otonom dapat tetap menentukan lokasi secara akurat tanpa bergantung pada sinyal GPS satelit.

Meski demikian, kedua perusahaan menegaskan bahwa data pemindaian mentah berupa foto atau video tidak diserahkan langsung.