Kendati demikian, sejumlah pihak masih menyikapi implementasi kesepakatan ini dengan sangsi. Beberapa pengamat memperingatkan bahwa pemulihan jalur ekspor energi dan aktivitas kapal pengangkut memerlukan waktu beberapa minggu.

Di Lebanon, kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyatakan bahwa Teheran kemungkinan belum akan menandatangani perjanjian nuklir final apabila militer Israel belum mundur dari Lebanon.

Selain dinamika politik di Timur Tengah, nilai komoditas minyak juga tertekan oleh sentimen negatif ekonomi China, kenaikan inflasi global, suku bunga tinggi, serta upaya AS menyudahi konflik Rusia dan Ukraina.

Trump mengutarakan pandangan bahwa Rusia harus segera berdamai dengan Ukraina menyusul agenda pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Pernyataan ini memunculkan harapan di antara pemimpin G7 terhadap potensi perdamaian.

Apabila perang di Ukraina berakhir, sebagian sanksi ekonomi terhadap Rusia berpeluang dicabut sehingga volume ekspor minyak negara itu bisa meningkat.

>>> Dua Gol Argentina dan Aljazair Dianulir karena Offside Milimeter

Berdasarkan data energi AS, Rusia adalah produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025 setelah AS dan Arab Saudi.