Oleh karena itu, para pemodal diimbau untuk tetap jeli memperhatikan kinerja fundamental secara menyeluruh. Investor disarankan tidak menjadikan aksi buyback sebagai satu-satunya parameter utama dalam mengambil keputusan investasi.

Sejalan dengan itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand memaparkan tiga dampak utama dari pelaksanaan program buyback terhadap pergerakan saham di pasar.

Dampak pertama adalah terciptanya permintaan tambahan di pasar yang berfungsi sebagai penahan koreksi harga saham.

Kedua, aksi ini mengirimkan sinyal bahwa manajemen menganggap harga pasar saham mereka saat ini sudah berada di bawah nilai wajar.

Adapun dampak ketiga bersifat struktural pada valuasi, di mana penurunan jumlah saham beredar berpotensi menaikkan EPS dan return on equity (ROE).

Abida menambahkan bahwa tingkat pengaruh buyback ini juga diukur dari skala program dibanding nilai kapitalisasi pasar emiten.

Atas dasar itu, aksi buyback yang dilakukan ASII senilai Rp 8 triliun dan TLKM sebesar Rp 4 triliun dianggap lebih material.

Pengaruhnya dinilai lebih signifikan dibandingkan dengan emiten lain yang mengalokasikan dana dalam skala jauh lebih kecil.

Sentimen pasar ini juga mendapat pasokan energi tambahan dari munculnya aksi beli bersih atau net buy oleh investor asing belakangan ini.

Kendati demikian, tren kenaikan harga saham ke depan tetap akan bertumpu pada kinerja operasional dan pertumbuhan bisnis emiten.

Terkait rekomendasi saham, Abida menetapkan status beli untuk saham ASII dengan target Rp6.850 dan saham TLKM dengan target Rp3.750 per saham.

>>> Super Indo Promo Tengah Bulan 15-18 Juni 2026: Diskon Sembako hingga Popok Bayi

Sementara itu, Elandry merekomendasikan beli untuk BBRI, TLKM, ASII, dan NCKL dengan target harga masing-masing Rp3.500, Rp3.300, Rp5.500, dan Rp1.200 per saham.