Sejumlah emiten besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak menggelar aksi pembelian kembali atau buyback saham bernilai jumbo.

Langkah ini dilakukan di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi.

>>> Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.652 per Dolar AS pada Rabu Pagi

PT Astra International Tbk mengalokasikan dana terbesar, sekitar Rp 8 triliun, untuk buyback saham menggunakan dana internal perusahaan.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk menyiapkan dana Rp 4 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga berencana melakukan langkah serupa dengan nilai buyback maksimal Rp 500 miliar.

Dampak Buyback bagi Pasar

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai aksi tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar.

Langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap nilai perusahaan.

"Banyak saham berkualitas valuasinya lebih menarik dibandingkan rata-rata historisnya," ujarnya.

Menurut Elandry, buyback berpotensi meningkatkan kepercayaan investor sekaligus membantu menjaga stabilitas harga saham, terutama saat pasar bergejolak.

Berkurangnya jumlah saham beredar juga dapat meningkatkan laba per saham atau earning per share.

Meski demikian, dampak terhadap kenaikan harga saham tidak selalu sama. Efektivitasnya sangat bergantung pada besaran dana alokasi, kondisi pasar, serta prospek bisnis masing-masing emiten.

Oleh karena itu, investor tetap perlu mencermati kinerja fundamental perusahaan. Investor dilarang menjadikan buyback sebagai satu-satunya dasar investasi.

>>> Super Indo Promo Tengah Bulan 15-18 Juni 2026: Diskon Sembako hingga Popok Bayi

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa buyback umumnya memberikan tiga dampak utama terhadap pergerakan saham.

Pertama, menciptakan permintaan tambahan yang dapat menjadi penopang harga saham di pasar.

Dampak kedua adalah menjadi sinyal bahwa manajemen menilai harga saham saat ini berada di bawah nilai wajarnya.