Rasulullah SAW menegaskan keutamaan hari-hari ini melalui sebuah riwayat dari Ibnu Abbas.

"Tidak ada amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah daripada amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Zulhijah."

(HR Bukhari)

Kebiasaan Rasulullah SAW dalam melaksanakan ibadah ini juga diperkuat melalui kesaksian salah seorang istri beliau.

>>> Logitech Luncurkan Keyboard Mekanik Gaming G316 X 98 dengan Layout Ringkas

Dari Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, bahwa Rasulullah SAW melakukan puasa pada sembilan hari bulan Zulhijah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan, dan hari Senin dan Kamis pertama setiap bulan (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Melalui dasar hadis tersebut, pelaksanaan puasa sunnah ini sah dilakukan secara berurutan mulai dari tanggal 1 sampai 9 Zulhijah.

Historias Puasa Arafah di Kalangan Sahabat

Puasa Arafah yang jatuh pada 9 Zulhijah menempati kedudukan yang sangat istimewa.

Para sahabat Nabi SAW tercatat pernah memperbincangkan status puasa Rasulullah SAW ketika beliau tengah melaksanakan wukuf di Arafah.

Dari Maimunah istri Nabi SAW, ia berkata: "Orang-orang saling berdebat apakah Nabi SAW berpuasa pada hari Arafah.

Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (Wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya."

(HR al-Bukhari dan Muslim)

Kejadian serupa juga diriwayatkan oleh Ummu al-Fadl binti al-Haris.

Dari Ummu al-Fadl, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi SAW, sebagian mengatakan beliau berpuasa, sebagian lainnya mengatakan tidak.

Lalu Ummu al-Fadl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta, maka beliau meminumnya (HR al-Bukhari dan Muslim).