Harga minyak dunia mengalami penurunan terdalam dalam lebih dari dua pekan terakhir.

Pelaku pasar, perusahaan pelayaran, dan produsen energi masih menanti rincian resmi kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

>>> Jadwal Operasional Bank Mandiri, BCA, BRI, BNI pada Libur Tahun Baru Islam 16 Juni 2026

Kesepakatan tersebut diproyeksikan akan membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$81 per barel setelah anjlok hampir 5% pada Senin (15/6), sementara Brent ditutup di kisaran US$83 per barel.

Nota kesepahaman (MoU) sementara dijadwalkan ditandatangani kedua belah pihak di Swiss pada Jumat mendatang. Namun, Washington dan Teheran hingga kini belum merilis teks resmi terkait kesepakatan tersebut.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz akan kembali terbuka pada Jumat.

"Saat ini kami sudah memiliki banyak jalur yang beroperasi," kata Trump kepada wartawan dalam KTT G-7 di Prancis.

"Selat itu akan terbuka dan bebas biaya."

Minimnya rincian resmi membuat para pelaku pasar tetap bersikap hati-hati.

Pejabat sektor energi di kawasan Teluk Persia menyatakan bahwa mereka dibanjiri pertanyaan dari para pembeli mengenai kepastian pengiriman kembali minyak mentah melalui jalur tersebut.

Para eksekutif perusahaan pelayaran dan pedagang komoditas masih membutuhkan kejelasan lebih lanjut sebelum mengirim kapal mereka.

Penurunan harga minyak ke level terendah sejak awal Maret ini telah menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi selama konflik berlangsung.

Situasi ini membantu meredakan tekanan inflasi saat para pembuat kebijakan di Federal Reserve (The Fed) tengah mengevaluasi arah suku bunga pekan ini.

Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz tidak serta-merta membuat kondisi langsung normal.