Harga minyak dunia merosot tajam setelah Amerika Serikat dan Iran resmi mencapai kesepakatan damai pada Selasa (16/6/2026).

Kesepakatan ini mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global.

>>> KBBI Tetapkan Penulisan Idulfitri yang Benar, Serangkai Tanpa Spasi

Meredanya ketegangan geopolitik langsung memulihkan pasokan energi. Harga minyak mentah AS ditutup turun 4,8 persen ke level US$80,75 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional melemah 4,7 persen menjadi US$83,17 per barel.

Penurunan tersebut merupakan yang terendah sejak awal Maret 2026, saat konflik dengan Iran mulai memanas.

Harga bensin grosir juga tercatat turun lebih dari 2,5 persen, dan minyak pemanas terkoreksi di atas 3,5 persen.

Pasar Saham Justru Melonjak

Di sisi lain, pasar saham global mencatat kenaikan signifikan.

Indeks S&P 500 naik 1,6 persen, Nasdaq Composite melonjak 3 persen, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 470 poin hingga mencetak rekor penutupan tertinggi.

>>> 5 Makanan Favorit Sel Kanker yang Banyak Dikonsumsi Warga RI

Saham sektor perjalanan dan teknologi kecerdasan buatan menjadi motor penguatan. Investor optimistis pemulihan pariwisata akan cepat seiring berkurangnya tekanan inflasi dari sektor energi.

Meski turun, harga minyak saat ini masih sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan awal tahun. Rata-rata harga bensin eceran bertahan di level US$4,07 per galon.

Analis ING mencatat pasar kembali antusias terhadap normalisasi pasokan energi dari kawasan Teluk. Namun, mereka mempertanyakan apakah harga energi akan turun jauh lebih rendah ke depannya.

Efek tidak langsung dari lonjakan harga energi sebelumnya mulai terlihat di berbagai sektor. Presiden ECB Christine Lagarde mengonfirmasi dampak inflasi energi mulai menyebar dalam beberapa pekan terakhir.

Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kunci pemulihan pasokan. Namun, pelaku pasar masih mencermati kecepatan pemulihan pascaperang.

>>> 8 Rekomendasi Film Terbaik Andy Lau dari Aksi hingga Drama

Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman hingga Februari 2027 bertahan di kisaran US$80 per barel, menunjukkan kewaspadaan terhadap stabilitas jangka panjang.