Bitcoin melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua pekan pada Senin malam waktu Indonesia.

Pemicunya adalah kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz.

>>> Tanaman Berbunga di Pekarangan Rumah Ciptakan Ekosistem Alami

Aset kripto utama ini naik hingga 5,1 persen ke kisaran US$67.250. Investor kembali memburu aset berisiko setelah meredanya ketegangan geopolitik.

Token terbesar kedua, Ether, ikut terkerek hampir 11 persen ke level US$1.850. Aset digital lain seperti Solana dan XRP juga mencatatkan penguatan besar.

Pemulihan harga ini terjadi setelah Bitcoin sempat tertekan di bawah US$60.000 pada awal bulan ini. Titik terendah sejak Oktober 2024 itu dipicu aksi jual korporasi.

Perusahaan pembeli Bitcoin terbesar, Strategy yang dipimpin Michael Saylor, sempat memicu tekanan pasar usai menjual sebagian kecil kepemilikannya.

Namun, belakangan mereka kembali membeli token senilai US$100 juta dalam sepekan terakhir.

Sentimen positif dari meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah langsung direspons pelaku pasar global.

"Saya rasa pada akhirnya harganya akan naik secara signifikan," kata Rick Rieder, kepala investasi pendapatan tetap global BlackRock.

Perbaikan situasi makro ini juga memicu kenaikan bursa saham dunia dan obligasi. Sebaliknya, harga minyak mentah justru merosot tajam.

Kepala riset aset digital global di Standard Chartered, Geoffrey Kendrick, menyatakan bahwa pasar kripto saat ini telah mencapai titik terendahnya.

Ia memproyeksikan US$83.000 sebagai level penting Bitcoin berikutnya.

Analis pasar senior di Capital. com, Daniela Hathorn, menilai kesepakatan damai sementara ini menjadi ujian menarik bagi pergerakan Bitcoin.

>>> Liverpool Dekati Kesepakatan untuk Pulangkan Darwin Nunez dari Al Hilal