Sejumlah pertanyaan besar masih bermunculan terkait keamanan pelayaran, aturan operasional, hingga kepastian biaya di jalur strategis tersebut.

>>> Ipswich Town Aktifkan Opsi Perpanjangan Kontrak Cameron Humphreys

Selat Hormuz sendiri sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia.

Analis Raymond James, Pavel Molchanov, memberikan pandangannya mengenai estimasi pemulihan pasokan energi ini.

"Waktu paling cepat bagi pasokan minyak untuk kembali ke level sebelum perang adalah akhir Juli," kata Pavel Molchanov.

"Industri minyak masih harus menyelesaikan berbagai kendala logistik sebelum pasokan dapat kembali normal."

Pada perdagangan pukul 06.55 waktu Singapura, WTI untuk pengiriman Juli terpantau naik 0,9% menjadi US$81,45 per barel.

Sementara itu, Brent untuk pengiriman Agustus ditutup turun 4,8% menjadi US$83,17 per barel pada hari Senin.

Berdasarkan data dari perusahaan intelijen pasar Kpler, hampir 300 kapal bermuatan saat ini masih menunggu untuk keluar dari Teluk Persia.

Jumlah kapal kosong yang mengantre untuk masuk ke kawasan tersebut guna mengangkut barang juga tercatat hampir sama banyak.

Analis utama riset Enverus, Kyle Bertimini, turut menilai proses pemulihan operasional di jalur perdagangan laut tersebut.

"Kami tidak benar-benar berpikir situasinya akan seperti membuka keran lalu semuanya kembali normal dalam beberapa minggu atau satu bulan," kata Kyle Bertimini.

"Prosesnya akan memakan waktu lebih lama dari itu."

Penutupan efektif Selat Hormuz yang berada di bawah blokade ganda oleh Iran dan AS telah memangkas arus pasokan energi dari Timur Tengah.

Dampaknya, cadangan komersial maupun strategis mengalami pengurasan yang cukup besar.

>>> Klaim Kode Redeem Sailor Piece Mei 2026 untuk Dapatkan Item Gratis

Berdasarkan data yang dirilis pada hari Senin, cadangan darurat minyak mentah milik Amerika Serikat kini bahkan telah merosot ke level terendah sejak tahun 1983.