Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut peringatan 1 Muharram sebagai momentum krusial untuk introspeksi spiritual dan membersihkan diri secara lahir dan batin.

Hal itu disampaikan dalam acara Ngaji Budaya bertema "Tradisi Muharram di Nusantara: Pesan Ekoteologi dalam Perspektif Kearifan Lokal" di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta.

>>> Cara Aktifkan DANA Cicil Mudah Lewat Aplikasi dan Syarat Lengkapnya

Menurut Nasaruddin, memperingati Tahun Baru Islam bukanlah aktivitas yang melestarikan bid'ah. Justru, pemahaman yang tepat dapat menjauhkan umat dari tindakan musyrik.

"Memperingati 1 Muharram ini bukan melestarikan bid'ah.

Justru kalau paham konsep ekoteologi, sulit untuk musyrik," ujarnya, dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin (15/6/2026).

Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Peaceful Muharram yang digelar Kementerian Agama.

Pandangan Ulama tentang Peringatan Muharram

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Buya Yahya. Dalam ceramahnya, ia menyatakan peringatan Tahun Baru Islam dianjurkan sebagai syiar untuk mengenalkan penanggalan Hijriah.

>>> Indonesia dan Korea Selatan Pererat Kerja Sama Ekonomi dengan Komitmen Investasi Rp173 Triliun

"Kita perlu hadirkan syiar tahun baru Hijriah. Ini bukan hari raya...

Akan tetapi di saat kita mengangkat syiar Muharram tahun baru, ini punya maksud bahwa Islam punya (penanggalan khusus)," ujar Buya Yahya dalam YouTube Al Bahjah TV.

Di sisi lain, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai ucapan selamat tahun baru Hijriah.

Sebagian ulama, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dari Arab Saudi, berpendapat bahwa menyampaikan tahni'ah bukan bagian dari syariat Islam.

Meski demikian, pengiriman ucapan 1 Muharram 1448 H tetap marak dilakukan di media sosial sebagai pesan inspiratif antar sesama muslim.

>>> Umat Muslim Lestari Tradisi Baca Doa Awal Tahun Muharram

Pada tahun 2026, tanggal 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada 16 Juni. Banyak umat Islam memanfaatkan momen ini untuk saling mengirimkan kata-kata motivasi dan doa.