Kementerian Agama mengajak umat Islam untuk menjadikan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai momentum memperkuat kesalehan sosial.

Ajakan ini disampaikan menyambut pergantian tahun hijriah yang jatuh pada akhir Juni 2026.

>>> Tradisi Minum Susu Putih Saat Tahun Baru Hijriah, Simbol Harapan dan Keberkahan 1 Muharram

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menekankan bahwa semangat hijrah harus dimaknai secara luas.

Menurutnya, hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan transformasi diri menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

"Kesalehan yang ideal adalah kesalehan yang mampu menghadirkan kepedulian dan kemaslahatan bagi sesama," ujar Arsad.

Pernyataan ini menegaskan bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal antarsesama.

Makna Bulan Muharram

Bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.

Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah dalam QS At-Taubah ayat 36.

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa pada bulan-bulan haram umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi kemaksiatan.

Muharram menjadi waktu yang tepat untuk muhasabah atau evaluasi diri, serta memperbarui niat dan kualitas kehidupan.

Di era modern, makna hijrah tidak lagi terbatas pada perpindahan fisik. Hijrah diwujudkan melalui perubahan sikap, pola pikir, kebiasaan, dan cara berinteraksi dengan sesama.

Pesan Kesalehan Sosial

Kementerian Agama menyoroti pentingnya memperkuat kesalehan sosial di tengah aktivitas ibadah personal. Kepedulian terhadap sesama merupakan bagian integral dari keimanan yang tidak terpisahkan.

Pesan ini tercantum dalam Surat Al-Ma'un yang menegur orang yang rajin beribadah namun mengabaikan anak yatim dan kaum miskin.