Prof. M.

>>> Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Teluk Arab

Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur'an menulis bahwa surah tersebut menunjukkan ukuran keberagamaan seseorang tidak hanya dari ritual, tetapi juga manfaat bagi orang lain.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga menegaskan bahwa keberagamaan ideal harus tercermin dalam akhlak, kasih sayang, dan kepedulian sosial.

Momentum Muharram menjadi waktu tepat untuk menghidupkan semangat berbagi kepada fakir miskin, anak yatim, dan kelompok rentan.

Semangat kesalehan sosial dapat diwujudkan melalui penguatan fungsi masjid serta optimalisasi pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Pada masa Rasulullah, masjid tidak hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan ekonomi.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqh Zakat menjelaskan bahwa zakat berperan strategis dalam mengurangi kesenjangan sosial dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Selain aspek sosial, Kementerian Agama mengingatkan pentingnya menjaga etika di ruang digital.

Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kemenag, Ismail Fahmi, menilai semangat hijrah perlu diwujudkan melalui "hijrah jemari", yaitu perubahan cara berinteraksi di dunia digital.

Tantangan di era digital meliputi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan perundungan daring.

Islam mengajarkan agar setiap ucapan dan tulisan membawa kemaslahatan, sebagaimana sabda Rasulullah: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."

Keberadaan penyuluh agama menjadi krusial dalam menyampaikan pemahaman keagamaan yang moderat dan ramah.

Mereka berperan sebagai benteng terhadap informasi keliru dan mampu menghidupkan nilai persaudaraan, optimisme, dan gotong royong.

>>> Efek Relativistik Penyebab Merkuri Tetap Cair pada Suhu Kamar

Muharram mengajarkan bahwa hijrah adalah proses berkelanjutan sepanjang hidup, dari kebencian menuju kasih sayang, dari acuh menjadi peduli, dan dari egoisme menuju solidaritas.