Nilai tukar rupiah mencatat penguatan signifikan pada akhir perdagangan Senin (15/6/2026).

Mata uang Garuda ditutup naik 0,85 persen atau 151,50 poin ke level Rp17.708,50 per dolar AS.

>>> Bursa Asia Menguat Usai Kesepakatan Damai Iran, Minyak Anjlok

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa penguatan ini sejalan dengan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi kondusif dipicu laporan bahwa Presiden AS Donald Trump bersama wakil menteri luar negeri Iran telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan memulihkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Perdana Menteri Pakistan menambahkan bahwa AS dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat mendatang.

"Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Selat Hormuz akan dibuka 'bebas biaya' dan blokade angkatan naval AS terhadap pelabuhan Iran juga akan berakhir," jelas Ibrahim.

Dari sisi domestik, penurunan harga minyak mentah dunia di bawah US$80 per barel dinilai meringankan beban defisit APBN.

Pasar juga mencermati potensi efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebesar 50 persen.

>>> Kemenkeu Usulkan Anggaran Rp49,8 Triliun untuk Tahun 2027

Stabilitas global yang pulih mendorong aksi jual valuta asing oleh masyarakat Indonesia.

Fenomena ini diharapkan menopang penguatan rupiah setelah sempat menyentuh level terendah di kisaran Rp18.200 per dolar AS.

Pergerakan pasar selanjutnya akan mengantisipasi hasil pertemuan kebijakan Bank Indonesia pada akhir pekan ini.

Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.

"Langkah pre-emptive ini dioptimalkan untuk melindungi nilai tukar rupiah dari gejolak global dan menahan capital outflow," pungkas Ibrahim.

>>> Cara Cek Desil Bansos 2026 Online via NIK KTP

Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan Selasa (16/6/2026).