UBS menyukai pertumbuhan volume nikel dan emas yang kuat, fokus pada pasar domestik, serta pertumbuhan dividen yang solid.

UBS juga menyoroti isu kebijakan seperti pembentukan lembaga ekspor terpusat, pungutan ekspor, tarif royalti, dan windfall tax yang masih menjadi perhatian investor.

Pasokan nikel diperkirakan tetap ketat karena persetujuan RKAB tambahan pada paruh kedua diperkirakan terbatas.

Phintraco Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp5.000 per saham, naik dari sebelumnya Rp3.700.

Analis Vinna N. Rachmawati memproyeksikan pendapatan ANTM mencapai Rp97,1 triliun pada 2026 atau tumbuh 14,7% secara tahunan.

Pertumbuhan diperkirakan berlanjut menjadi 15,8% pada 2027 dan 16,4% pada 2028.

Laba kotor diproyeksikan meningkat menjadi Rp15,3 triliun pada 2026 dan mencapai Rp22,2 triliun pada 2028, dengan EBITDA mencapai Rp10 triliun pada 2026.

ANTM menargetkan pertumbuhan jangka panjang melalui ekspansi kapasitas dan integrasi bisnis dari hulu ke hilir, terutama dalam ekosistem baterai kendaraan listrik dan aluminium.

>>> Harga Emas Antam 15 Juni 2026 Menguat Rp 18.000, Harga per Gram Tembus Rp 2,729 Juta

Proyek yang tengah dikembangkan meliputi pabrik logam mulia di Gresik, proyek RKEF dan HPAL di Halmahera Timur, hilirisasi NKA bersama Huayou, serta proyek Smelter Grade Alumina di Mempawah.