Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) menjadi 5,5 persen diperkirakan mulai mendongkrak suku bunga kredit perbankan dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Dampak kebijakan yang diumumkan pada awal Juni 2026 ini berpotensi memperberat beban cicilan masyarakat kelas menengah.

>>> Kiandra Ramadhipa Juarai Moto3 Junior Estoril 2026

Proses transmisi kebijakan moneter membutuhkan waktu penyesuaian oleh perbankan, sehingga efeknya tidak langsung dirasakan nasabah.

Estimasi menunjukkan lonjakan suku bunga pinjaman baru akan terjadi mulai September hingga November 2026.

Penjelasan Pengamat

Pengamat Perbankan sekaligus Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, menjelaskan adanya jeda waktu dalam penyesuaian suku bunga tersebut.

"Biasanya ada lag waktu antara kenaikan BI-Rate dan kenaikan suku bunga pinjaman.

Sekitar 3 sampai 6 bulan ke depan baru akan terasa," ujar David saat dihubungi, Minggu (14/6/2026).

Menurut David, kecepatan dan besaran penyesuaian bunga kredit sangat bergantung pada tingkat kompetisi antarbank di setiap segmen pembiayaan.

Kelompok masyarakat yang mengambil kredit konsumsi dinilai menjadi pihak paling rentan.

"Yang paling banyak terdampak adalah masyarakat kelas menengah yang biasanya banyak mengambil kredit konsumsi, seperti perumahan (KPR) dan mobil (KKB)," jelas David.

>>> Warga RI Masuk Jajaran Paling Suka Beramal se-Dunia, Ini Buktinya

Peningkatan bunga pinjaman tidak hanya menambah beban pengeluaran rutin bulanan, tetapi juga membawa risiko terhadap kolektibilitas kredit.

Sektor tertentu diproyeksikan mengalami peningkatan potensi risiko gagal bayar, terutama segmen konsumtif dan UMKM.

Nasabah dengan beban utang konsumtif besar diimbau segera mengelola ulang perencanaan keuangan.

"Harus prudent dalam mengatur pembelanjaan.

Untuk utang konsumtif yang bunganya tinggi, coba lakukan refinancing dengan pinjaman yang suku bunganya lebih rendah," saran David.

Bank Indonesia menaikkan BI-Rate demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam risiko inflasi akibat ketidakpastian global.

Efek penurunan daya beli masyarakat berpeluang diredam jika pemerintah mengucurkan stimulus untuk menyokong konsumsi domestik.

>>> Belanda Bersiap Hadapi Disiplin Jepang di Piala Dunia 2026

Pelaku pasar saat ini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia selanjutnya untuk melihat arah kebijakan moneter ke depan.