Geopolitik Global Picu Fluktuasi Harga Emas Sepekan ke Depan
Dinamika geopolitik global diproyeksi memicu pergerakan fluktuatif harga komoditas emas dalam sepekan ke depan.
Analis Komoditas, Ibrahim Assuaibi memaparkan harga emas dunia pada Sabtu pagi ditutup di level US$ 4.209 per troy ons dan harga logam mulia berada di posisi Rp 2.711.000 per gram.
>>> Dokter di Malaysia Salah Petik Rumput, Dikira Daun Pandan untuk Kue Ibu
Jika terjadi koreksi dalam sepekan mendatang, batas bawah pertama diperkirakan menyentuh US$ 4.058 per troy ons dan Rp 2.690.000 per gram.
Tingkat penurunan lanjutan diproyeksi mampu mencapai support kedua pada level US$ 3.929 per troy ons dan Rp 2.500.000 per gram.
Sebaliknya, pergerakan positif akan membawa harga emas dunia dan logam mulia menuju resistance pertama di level US$ 4.394 per troy ons serta Rp 2.740.000 per gram.
"Kalau seandainya menguat lagi, harga emas dunia diproyeksi di US$ 4.571 per troy ons dan logam mulianya di Rp 2.880.000 per gram," kata Ibrahim, Minggu (14/6/2026).
Faktor Pendorong Fluktuasi
Faktor utama pergerakan komoditas ini bersumber dari sentimen geopolitik, termasuk kabar kesepakatan damai Amerika Serikat dengan Iran yang berimbas pada penurunan harga minyak mentah dunia.
>>> Panasonic Luncurkan AC Premium Inverter HU-CKJ Series di PRJ 2026
Penurunan harga minyak diprediksi menguatkan indeks dolar, yang kemudian diyakini memicu kenaikan harga emas karena peralihan modal para investor.
"Kalau benar – benar terjadi perdamaian antara AS – Iran, kemudian Selat Hormuz dibuka, kemungkinan besar masyarakat, investor yang tadinya melakukan investasi di dolar AS akan berbalik ke logam mulia sebagai safe haven," kata Ibrahim.
Selain masalah geopolitik, kebijakan suku bunga bank sentral AS turut memegang peranan penting dalam pergerakan harga.
Mengingat adanya lonjakan pada indeks harga konsumen dan produsen AS, bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pekan depan, namun peluang kenaikan tetap terbuka.
>>> Bank Danamon Jaga Kualitas KPR di Tengah Kenaikan BI Rate
"Jika lonjakan harga minyak mentah masih terjadi dan inflasi di atas 2%, kemungkinan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga," ucap Ibrahim.
Update Terbaru
Kritikus Puji Atmosfer Backrooms (2026), Cerita Dianggap Ambigu
Minggu / 14-06-2026, 20:32 WIB
10 Anime Legendaris yang Menemani Masa Kecil di Indonesia
Minggu / 14-06-2026, 20:32 WIB
TODAK Isyaratkan Kerja Sama Baru pada MPL Indonesia Season 18
Minggu / 14-06-2026, 20:24 WIB
ADPI dan Asosiasi DPLK Ungkap Hambatan Pertumbuhan Iuran Dana Pensiun
Minggu / 14-06-2026, 20:23 WIB
Garena Free Fire Sediakan Karakter Unicode untuk Nama Kosong Pendek
Minggu / 14-06-2026, 20:23 WIB
Keputusan Ancelotti Panggil Neymar ke Piala Dunia 2026 Picu Perdebatan
Minggu / 14-06-2026, 20:13 WIB
FIFA Tetap Bayar Gaji Penuh Wasit Omar Artan yang Ditolak Visa AS
Minggu / 14-06-2026, 20:12 WIB
Astronom Temukan Bukti Langka Tabrakan Dua Planet di Luar Tata Surya
Minggu / 14-06-2026, 20:12 WIB
BMW Perkenalkan M Concept Neue Klasse di Le Mans 2026
Minggu / 14-06-2026, 20:12 WIB
Trafik Robot Kini Dominasi Internet Global, Lampaui Manusia
Minggu / 14-06-2026, 20:08 WIB
197 Ponsel Diskon Besar di PRJ 2026, Harga Mulai Rp400 Ribu
Minggu / 14-06-2026, 20:03 WIB
Wedding Organizer Ungkap Penyebab Calon Pengantin Stres Siapkan Pernikahan
Minggu / 14-06-2026, 20:01 WIB
Pasar Modal Lesu, Rencana IPO Banyak Perusahaan Tertunda
Minggu / 14-06-2026, 20:00 WIB
Tarif Hotel dan Parkir di Sekitar Stadion MetLife Melonjak Jelang Piala Dunia 2026
Minggu / 14-06-2026, 20:00 WIB






