Selain itu, industri otomotif, khususnya kendaraan listrik dan komponen pendukungnya, juga berpeluang menjadi sumber pertumbuhan ekspor baru seiring meningkatnya investasi dan kapasitas produksi di dalam negeri.

Di sisi lain, industri padat karya berorientasi ekspor seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, dan furnitur masih memiliki peluang untuk meningkatkan kontribusinya apabila mampu meningkatkan efisiensi dan memperluas penetrasi ke pasar nontradisional.

"Kombinasi antara sektor hilirisasi dan industri manufaktur bernilai tambah tinggi akan menjadi kunci untuk mencapai target peningkatan porsi ekspor tersebut," katanya.

>>> Turis Malaysia Kirim 1.200 Paket Belanja ke Hotel China, Staf Kewalahan

Namun demikian, Saleh mengungkapkan sejumlah asosiasi industri saat ini masih mengeluhkan kesulitan memperoleh bahan baku dan bahan baku penolong.

Selain itu, harga gas industri yang dinilai masih tinggi juga menjadi tantangan bagi daya saing sektor manufaktur.

Menurut Saleh, hambatan terbesar yang saat ini dihadapi pelaku industri dalam meningkatkan ekspor adalah melemahnya permintaan global, tingginya biaya logistik, meningkatnya hambatan non-tarif di negara tujuan ekspor, serta tekanan dari produk negara pesaing yang memperoleh berbagai insentif dari pemerintah masing-masing.

Selain itu, sebagian industri juga masih menghadapi keterbatasan akses pembiayaan ekspor, sertifikasi internasional, serta pemenuhan standar keberlanjutan yang semakin ketat di pasar global.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, dunia usaha berharap pemerintah memperkuat diplomasi perdagangan guna membuka akses pasar baru, menyederhanakan regulasi ekspor, meningkatkan efisiensi logistik nasional, serta memperluas dukungan pembiayaan dan promosi ekspor.

"Insentif untuk investasi teknologi, transformasi digital, dan dekarbonisasi industri juga semakin penting agar produk Indonesia dapat memenuhi tuntutan pasar internasional yang semakin menekankan aspek keberlanjutan," imbuhnya.