Wisata langit malam atau astrowisata mulai dikembangkan di Desa Wisata Alamendah, Bandung Selatan, Jawa Barat. Inisiatif ini digagas oleh pemuda sadar wisata bersama akademisi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Astrowisata tidak hanya menawarkan pengamatan benda langit dengan teleskop, tetapi juga memadukan kearifan lokal budaya Sunda.

>>> Alwi Farhan Juara Australian Open 2026, Kalahkan Dong Tian Yao

Hal ini diharapkan dapat menarik wisatawan yang selama ini menganggap wisata langit terlalu berat.

Pelatihan Astrowisata di Alamendah

Pada Minggu (14/6/2026), Balai Desa Alamendah menjadi lokasi pelatihan astrowisata yang merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Desa Binaan UPI.

Pelatihan diikuti oleh para pemuda sadar wisata dan menghadirkan ahli pariwisata serta astrofisika UPI.

Dr. Fitri Rahmafitria menyatakan bahwa astrowisata masih baru di Indonesia dan perlu perhatian serius dari dunia kampus.

Tujuannya adalah menciptakan pengalaman wisata langit yang edukatif, aman, dan menarik dengan pemandu terlatih.

"Dengan pemandu terlatih, wisatawan tidak hanya melihat fenomena, tetapi juga memahami makna di baliknya," ujar Fitri.

Cahyo Puji Asmoro menekankan pentingnya menekan polusi cahaya. Di Alamendah yang berada di lereng Gunung Patuha, tingkat polusi cahaya masih bisa ditolerir untuk pengamatan langit.

>>> ITB Buka Pendaftaran Beasiswa S2 Kecerdasan Artifisial hingga 15 Juni 2026

Sebagai perbandingan, Kupang di NTT memiliki polusi cahaya rendah dan menjadi lokasi Observatorium Nasional Timau, fasilitas astronomi terbesar di Asia Tenggara.

Cahyo juga menyebutkan bahwa astrowisata bisa dipadukan dengan pengetahuan lokal Sunda tentang benda langit yang telah diwariskan turun-temurun, misalnya untuk penanda waktu dan kegiatan pertanian.

Dampak Ekonomi bagi Desa

Wendi, pionir Desa Wisata Alamendah, mengedepankan metode pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dalam pengelolaan wisata. Pendekatan ini menggabungkan sains dengan tradisi dan bentang alam setempat.