Presiden Amerika Serikat Donald Trump membangun arena oktagon UFC di halaman selatan Gedung Putih.

Arena setinggi 28 meter yang dijuluki "The Claw" itu didirikan hanya beberapa meter dari kompleks kepresidenan.

>>> 10 Anime Legendaris yang Menemani Masa Kecil di Indonesia

Pembangunan dilakukan dalam rangka menyelenggarakan acara bertajuk "UFC Freedom 250" untuk menyambut peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat bulan depan.

Fasilitas ini mampu menampung sekitar 4.000 penonton.

Pertandingan utama mempertemukan juara kelas ringan UFC Ilia Topuria melawan mantan penantang gelar sementara Justin Gaethje.

Tiket tidak dijual bebas, melainkan melalui undangan khusus dengan nilai lebih dari 1 juta dolar AS.

Langkah Trump menggunakan area federal untuk acara perusahaan swasta langsung memicu kontroversi hukum dan etika. Kebijakan ini dinilai menyimpang dari praktik normal pemerintahan dan menimbulkan dugaan konflik kepentingan.

Gugatan sempat diajukan ke mahkamah untuk mempertanyakan legalitas acara. Namun, hakim menolak permintaan menghentikan seluruh rangkaian kegiatan tersebut.

Respons Publik dan Kaitan Bisnis Politik

Survei Reuters/Ipsos terhadap 4.531 orang dewasa AS pada 3–8 Juni menunjukkan hanya 16% responden menilai acara tersebut pantas diselenggarakan oleh seorang presiden.

Penggemar MMA juga terbelah: 45% puas dengan kinerja Trump, 55% tidak puas.

Trump dikenal dekat dengan CEO UFC Dana White dan keluarga Ellison yang terkait dengan Paramount.

>>> TODAK Isyaratkan Kerja Sama Baru pada MPL Indonesia Season 18

Perusahaan itu memegang kontrak siaran UFC senilai 7,7 miliar dolar AS hingga 2033.

Dana White telah lama menggunakan popularitas UFC untuk mendukung kampanye Trump sejak 2016.

Untuk acara ini, UFC dilaporkan menghabiskan dana lebih dari 60 juta dolar AS tanpa menargetkan keuntungan finansial.