Aktivitas bongkar muat di Terminal Nonpetikemas Tanjung Priok, Jakarta Utara, tetap berlangsung tanpa jeda meski akhir pekan jelang libur nasional.

Kesibukan ini menjadi bagian penting dari rantai pasok yang menentukan ketersediaan barang kebutuhan pokok.

>>> PT Raharja Energi Cepu Tbk Tuntaskan Akuisisi 20 Persen Saham Madura Strait PSC

Komoditas yang diangkut kapal nonpeti kemas akan dipindahkan ke fasilitas penyimpanan sebelum didistribusikan ke berbagai pelabuhan domestik dan internasional, seperti Pontianak hingga Darwin di Australia.

Alur distribusi ini berdampak langsung pada stabilitas harga barang dan aktivitas industri nasional.

Neneng (55), pengelola kantin yang telah bertahun-tahun melayani pekerja di kawasan Terminal Nonpetikemas Tanjung Priok, mengatakan bahwa sistem kerja sif membuat kawasan selalu ramai.

Digitalisasi untuk Efisiensi

Direktur Utama PTP Nonpetikemas Indra Hidayat Sani menjelaskan bahwa inti manajemen rantai pasok modern adalah memastikan ketersediaan barang tepat waktu melalui sistem just in time (JIT).

Langkah ini efektif menekan biaya gudang, asuransi, dan penyimpanan bagi korporasi.

Menurut Indra, rantai utama logistik ada di pelabuhan. Jika pelabuhan bermasalah, logistik pun bermasalah.

Untuk meminimalkan hambatan arus logistik, PTP Nonpetikemas menerapkan digitalisasi melalui Port Terminal Operating System Model (PTOSM).

Ekosistem digital ini mengintegrasikan perencanaan sandar kapal, administrasi, hingga pemantauan operasional secara real time.

Indra menegaskan bahwa misi perusahaan adalah memperpendek port time.

Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas Fiona Sari Utami menilai pelabuhan curah memiliki peran strategis dalam menjaga konektivitas nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Segmen jasa pelabuhan ini berperan dalam meningkatnya aktivitas industri serta program hilirisasi yang digesa pemerintah.

Fiona mengatakan bahwa tanpa pelabuhan yang andal, biaya logistik akan meningkat dan berdampak langsung pada daya saing industri serta stabilitas harga domestik.