Target Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk meningkatkan komposisi penjualan produk manufaktur menjadi 30% untuk pasar ekspor dan 70% untuk domestik dinilai menghadapi sejumlah tantangan struktural.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan target tersebut masih dapat dicapai, tetapi membutuhkan pembenahan mendasar terhadap berbagai persoalan yang selama ini membatasi daya saing industri nasional.

>>> Skotlandia Kalahkan Haiti 1-0 Berkat Gol John McGinn

"Target meningkatkan porsi ekspor manufaktur hingga 30% sebenarnya ambisius, tetapi bukan sesuatu yang mustahil dicapai.

Namun, target ini bukan sekadar soal menaikkan angka ekspor, melainkan mengubah struktur industri," ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurut Yusuf, salah satu tantangan utama adalah menurunnya kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian nasional.

Kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) yang sempat mendekati 32% pada 2002 kini turun menjadi sekitar 19% pada 2025.

"Gejala ini sering disebut sebagai deindustrialisasi dini," katanya.

Kondisi tersebut membuat upaya meningkatkan manufaktur berorientasi ekspor menjadi lebih sulit karena peran sektor industri dalam perekonomian terus menyusut.

Karena itu, realistis atau tidaknya target ekspor 30% sangat bergantung pada jangka waktu yang ditetapkan.

Menurut Yusuf, target tersebut masih dapat dicapai dalam horizon lima hingga sepuluh tahun apabila dibarengi reformasi biaya produksi dan peningkatan daya saing industri.

Namun, jika ditetapkan sebagai target jangka pendek tanpa perbaikan fundamental, target tersebut lebih tepat dipandang sebagai aspirasi kebijakan.

Tantangan Biaya dan Daya Saing

Selain persoalan struktural, biaya logistik, energi, dan administrasi yang masih tinggi juga dinilai menjadi penghambat utama daya saing manufaktur Indonesia.

Kondisi itu membuat investor cenderung melirik negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand yang memiliki rantai pasok lebih efisien serta proses bisnis yang lebih sederhana.