Tapa Bisu Keraton Yogyakarta Jadi Tirakat Malam 1 Suro dengan Mubeng Beteng 4 Kilometer

Setiap datangnya Malam 1 Suro, Keraton Yogyakarta menggelar Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng, sebuah tradisi yang telah berlangsung turun-temurun sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Ritual ini dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi kawasan benteng Keraton Yogyakarta tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan menjadi bagian utama dalam pelaksanaan tirakat tersebut.

Sebelum prosesi dimulai, para abdi dalem terlebih dahulu melantunkan tembang macapat di Bangsal Srimanganti. Kidung yang dibawakan berisi doa dan harapan yang menyertai pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.

>>> Polemik Gula Tinggi pada Produk Probiotik: Manfaat vs Risiko Diabetes

Diawali Bunyi Lonceng Tengah Malam

Tapa Bisu dimulai menjelang tengah malam. Tanda dimulainya prosesi ditandai dengan bunyi lonceng Kyai Brajanala di Regol Keben sebanyak 12 kali.

Setelah itu, rombongan peserta tirakat bergerak menyusuri jalur mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta. Jarak yang ditempuh selama perjalanan mencapai sekitar 4 kilometer.

Barisan paling depan diisi para abdi dalem yang mengenakan busana adat Jawa tanpa keris dan tanpa alas kaki. Mereka berjalan sambil membawa bendera Merah Putih serta panji-panji Keraton Yogyakarta.

Larangan Selama Prosesi Tapa Bisu

Peserta yang mengikuti lampah mubeng beteng wajib menjaga keheningan sepanjang perjalanan. Selain tidak diperbolehkan berbicara, mereka juga dilarang makan, minum, dan merokok hingga prosesi selesai.

Keheningan yang dijaga sepanjang malam menjadi bagian dari laku prihatin. Tradisi ini dimaknai sebagai waktu untuk menelaah kembali berbagai tindakan yang telah dilakukan selama setahun terakhir sekaligus menjalani refleksi diri menjelang tahun baru Jawa.