Target Ekspor Manufaktur 30% Kemenperin Dinilai Hadapi Tantangan Struktural
"Selama persoalan biaya ini belum diselesaikan, berbagai insentif ekspor berisiko tidak memberikan dampak optimal," tegasnya.
>>> Skotlandia Kalahkan Haiti 1-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Yusuf juga menyoroti tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor.
Pada sejumlah industri pengolahan berbasis sumber daya alam, berbagai input strategis masih didatangkan dari luar negeri sehingga sebagian nilai tambah dinikmati negara lain.
Di sisi lain, pengembangan industri hilir membutuhkan dukungan pasokan energi dan infrastruktur yang memadai. Karena itu, kebijakan industri dinilai perlu berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur dan sektor energi.
Menurutnya, pemerintah perlu fokus pada tiga agenda utama, yakni menekan biaya logistik dan energi, memperkuat rantai pasok domestik, serta menciptakan kepastian regulasi yang konsisten.
Yusuf juga mengingatkan agar peningkatan ekspor manufaktur tidak hanya bergantung pada industri logam dasar.
Hilirisasi nikel memang menjadi pendorong utama ekspor manufaktur dalam beberapa tahun terakhir, tetapi dominasi sektor tersebut berisiko menghambat perkembangan subsektor lain jika tidak diimbangi diversifikasi.
Indonesia, kata dia, tetap perlu memperkuat industri makanan dan minuman olahan, elektronik, komponen otomotif, mesin, tekstil, hingga alas kaki agar struktur ekspor lebih beragam dan tahan terhadap gejolak harga komoditas global.
"Diversifikasi inilah yang akan mengurangi ketergantungan terhadap satu komoditas dan membuat ekspor lebih tahan terhadap fluktuasi harga global," tutur Yusuf.
Lebih lanjut, dia menilai daya saing ekspor manufaktur saat ini tidak lagi ditentukan oleh murahnya upah tenaga kerja, melainkan produktivitas dibandingkan dengan keseluruhan biaya produksi.
Vietnam, lanjutnya, unggul bukan semata karena biaya produksinya lebih rendah, tetapi karena ekosistem industrinya lebih efisien dan terintegrasi.
"Indonesia harus mampu menghasilkan produk yang lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi sambil menekan biaya produksi," saran Yusuf.
Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Yusuf menilai target peningkatan porsi ekspor manufaktur hingga 30% tetap layak dikejar karena berpotensi meningkatkan devisa, memperkuat neraca perdagangan, menarik investasi, serta menciptakan lapangan kerja formal yang lebih luas.
Update Terbaru
Timnas Brasil Tahan Imbang Maroko pada Laga Pembuka Piala Dunia
Minggu / 14-06-2026, 12:56 WIB
Hakim Tolak Gugatan Warga Terkait Pertandingan UFC di Gedung Putih
Minggu / 14-06-2026, 12:56 WIB
Kemenkes dan BPOM Kendalikan Kenaikan Harga Obat Akibat Pelemahan Rupiah
Minggu / 14-06-2026, 12:52 WIB
Inggris dan Jepang Sepakati Investasi Hijau Rp392 Triliun
Minggu / 14-06-2026, 12:52 WIB
Harga Emas Antam 13 Juni 2026 Turun Rp 32.000 Per Gram dalam Sepekan
Minggu / 14-06-2026, 12:43 WIB
Ibu Hamil Boleh Makan Kacang Arab, Ini Manfaat dan Aturan Konsumsinya
Minggu / 14-06-2026, 12:43 WIB
Vincenzo Montella Lakukan Empat Perubahan di Laga Turki vs Australia
Minggu / 14-06-2026, 12:40 WIB
Bule Jerman Jual Pancake Tradisional Eierkuchen Mulai Rp 10 Ribuan di Jakarta
Minggu / 14-06-2026, 12:36 WIB
Qatar Cetak Sejarah Raih Poin Perdana di Piala Dunia 2026
Minggu / 14-06-2026, 12:32 WIB
Ramalan Zodiak Capricorn, Aquarius, dan Pisces: Manajemen Emosi Jadi Sorotan
Minggu / 14-06-2026, 12:32 WIB
Kemensos Salurkan BPNT Tahap Dua 2026 Rp600.000 via KKS dan Pos
Minggu / 14-06-2026, 12:32 WIB
Teknologi PHEV Jadi Solusi Efisiensi Mobilitas di Tengah Fluktuasi Harga Energi
Minggu / 14-06-2026, 12:28 WIB
3 Cara Mudah Membersihkan Coretan di Dinding Rumah
Minggu / 14-06-2026, 12:21 WIB
Kemdiktisaintek Nonaktifkan 297 Mahasiswa Profesi Dokter
Minggu / 14-06-2026, 12:21 WIB






