"Selama persoalan biaya ini belum diselesaikan, berbagai insentif ekspor berisiko tidak memberikan dampak optimal," tegasnya.

>>> Skotlandia Kalahkan Haiti 1-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Yusuf juga menyoroti tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor.

Pada sejumlah industri pengolahan berbasis sumber daya alam, berbagai input strategis masih didatangkan dari luar negeri sehingga sebagian nilai tambah dinikmati negara lain.

Di sisi lain, pengembangan industri hilir membutuhkan dukungan pasokan energi dan infrastruktur yang memadai. Karena itu, kebijakan industri dinilai perlu berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur dan sektor energi.

Menurutnya, pemerintah perlu fokus pada tiga agenda utama, yakni menekan biaya logistik dan energi, memperkuat rantai pasok domestik, serta menciptakan kepastian regulasi yang konsisten.

Yusuf juga mengingatkan agar peningkatan ekspor manufaktur tidak hanya bergantung pada industri logam dasar.

Hilirisasi nikel memang menjadi pendorong utama ekspor manufaktur dalam beberapa tahun terakhir, tetapi dominasi sektor tersebut berisiko menghambat perkembangan subsektor lain jika tidak diimbangi diversifikasi.

Indonesia, kata dia, tetap perlu memperkuat industri makanan dan minuman olahan, elektronik, komponen otomotif, mesin, tekstil, hingga alas kaki agar struktur ekspor lebih beragam dan tahan terhadap gejolak harga komoditas global.

"Diversifikasi inilah yang akan mengurangi ketergantungan terhadap satu komoditas dan membuat ekspor lebih tahan terhadap fluktuasi harga global," tutur Yusuf.

Lebih lanjut, dia menilai daya saing ekspor manufaktur saat ini tidak lagi ditentukan oleh murahnya upah tenaga kerja, melainkan produktivitas dibandingkan dengan keseluruhan biaya produksi.

Vietnam, lanjutnya, unggul bukan semata karena biaya produksinya lebih rendah, tetapi karena ekosistem industrinya lebih efisien dan terintegrasi.

"Indonesia harus mampu menghasilkan produk yang lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi sambil menekan biaya produksi," saran Yusuf.

>>> Jadwal Acara Trans TV Senin, 15 Juni 2026 Ada Film Bioskop, Brownies, Insert dan Pagi-Pagi Ambyar + Link

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Yusuf menilai target peningkatan porsi ekspor manufaktur hingga 30% tetap layak dikejar karena berpotensi meningkatkan devisa, memperkuat neraca perdagangan, menarik investasi, serta menciptakan lapangan kerja formal yang lebih luas.