Kinerja emiten sektor rumah sakit diperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan pada kuartal III-2026.

Prospek positif ini tetap membayangi industri kesehatan meski dihadapkan pada tekanan biaya akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan upah tenaga kerja.

>>> Australia Tekuk Turki 2-0 di Piala Dunia 2026

Sektor rumah sakit dinilai tetap menarik karena permintaan terhadap layanan kesehatan cenderung stabil. Sektor ini juga tidak terlalu dipengaruhi oleh dinamika kondisi ekonomi yang sedang terjadi.

Emiten seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) berpeluang membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit secara tahunan.

Potensi tersebut didukung oleh ekspansi kapasitas layanan serta konsistensi pertumbuhan jumlah pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Tantangan dan Tekanan Biaya

Kendati demikian, industri ini masih harus mengantisipasi sejumlah tantangan besar yang berpotensi menekan profitabilitas perusahaan. Pelemahan rupiah memicu peningkatan beban impor untuk alat kesehatan dan obat-obatan.

Di sisi lain, peningkatan Upah Minimum Regional (UMR) sekitar 6,5% turut membebani biaya tenaga kerja yang berkontribusi sebesar 35% hingga 40% dari cost of goods sold (COGS).

"Sektor rumah sakit masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama tekanan biaya akibat pelemahan rupiah yang meningkatkan beban impor alat kesehatan dan obat-obatan, serta kenaikan UMR sekitar 6,5% yang membebani biaya tenaga kerja yang menyumbang 35%-40% dari COGS," ujar Kepala Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi.

Tingkat persaingan pada segmen rumah sakit swasta kelas menengah hingga kelas atas saat ini juga dilaporkan semakin ketat.

Oleh karena itu, pergerakan nilai tukar rupiah menjadi faktor krusial yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar.