Investor saat ini lebih memilih menjual saham daripada menunggu rincian implementasi kebijakan. Hal ini menunjukkan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi di pasar.

Analis CGS International, Hadi, mengungkapkan bahwa faktor domestik dan ketegangan geopolitik di Iran memperburuk sentimen global. Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal Indonesia juga turut menekan pasar.

>>> Wuling Buka Pemesanan Awal Mobil Listrik Aira EV di Jakarta

Arus keluar dana asing yang signifikan membuat valuasi pasar saham Indonesia tertekan tajam.

Saham dalam cakupan riset CGS International kini diperdagangkan pada rasio P/E sekitar 7,2 kali, jauh di bawah rata-rata 11 tahun sebesar 14,8 kali.

Meski tekanan masih kuat, IHSG mencatat rebound 10,5% dalam dua hari perdagangan pada 8–9 Juni 2026.

Namun, IHSG masih berada sekitar 15% di bawah level akhir April dan turun 32% secara year-to-date.

Pemulihan ini dipicu oleh langkah agresif Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 9 Juni 2026.

Peningkatan imbal hasil SRBI juga dilakukan untuk menarik kembali arus modal asing.

Sejak kebijakan tersebut diumumkan, rupiah menguat sekitar 2% terhadap dolar AS dalam dua hari. Penguatan ini menjadi yang terkuat sejak Januari 2026.

Perubahan sentimen pasar juga dipengaruhi penahanan Kepala Badan Gizi Nasional pada 3 Juni 2026. Hal ini membuka ekspektasi penyesuaian program makan bergizi gratis beserta anggarannya.

>>> Tiga Wakil Indonesia Lolos ke Final Australian Open 2026

Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi Pertamax RON92 pada 10 Juni 2026 dinilai sebagai sinyal positif disiplin fiskal. Kebijakan tersebut berpotensi menghasilkan penghematan anggaran hingga puluhan triliun rupiah.

Meski terdapat perbaikan jangka pendek, Hadi menilai ketidakpastian masih tinggi.