Sistem sewa dan tukar baterai menjadi opsi untuk menekan harga jual awal sepeda motor listrik. Namun, sebagian pengguna kini mulai mempertimbangkan untuk beralih menggunakan baterai milik pribadi.

Fleksibilitas penggunaan serta pertimbangan biaya jangka panjang menjadi alasan utama beberapa pemilik ingin mengubah sistem tersebut.

>>> Akio Toyoda Khawatir Dominasi Mobil Listrik Murni Ancam Industri Otomotif

Proses transisi dari sistem sewa menuju baterai mandiri ternyata membutuhkan penyesuaian teknis yang cukup rumit.

Abdulah dari Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat, menjelaskan bahwa peralihan ini menuntut sejumlah perubahan pada sistem elektronik kendaraan.

Motor yang sejak awal dirancang untuk sistem tukar umumnya mengandalkan komunikasi data yang terintegrasi antar komponen.

"Untuk penyesuaiannya kalau ingin menjadi baterai pribadi ada banyak, karena biasanya yang menggunakan sistem tukar baterai atau sewa itu menggunakan jalur data dari controller, BMS, ke speedometer," kata Abdul kepada Kompas.

com, Jumat (12/6/2026).

Kondisi saling terhubung ini membuat penggunaan baterai umum atau aftermarket tidak bisa langsung kompatibel dengan motor listrik bawaan pabrik.

"Sehingga kalau menggunakan baterai umum atau general itu biasanya tidak terbaca dan motornya tidak mau jalan," ujar dia.

Jika dipaksakan tanpa ubahan, beberapa tipe motor listrik bahkan mengalami penurunan performa yang signifikan meskipun mesin masih bisa menyala.

"Kalaupun motornya bisa jalan, dia akan lambat seperti dibatasi," kata Abdul.

>>> Mitsubishi Bersiap Hidupkan Kembali Pajero Ralliart

Agar motor listrik dapat berjalan normal dengan baterai pribadi, penggantian beberapa komponen pendukung mutlak diperlukan oleh pemilik kendaraan.

"Biasanya penyesuaiannya, kita ganti baterai umum dengan BMS umum, kemudian controller kita pakai yang umum juga atau yang general," katanya.