Skema sewa dan tukar baterai menjadi opsi yang ditawarkan pabrikan motor listrik untuk menekan harga awal. Namun, belakangan muncul fenomena konsumen yang beralih ke baterai pribadi.

Abdulah dari Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat, mengonfirmasi peralihan tersebut. "Dari baterai sewa atau swap ke baterai pribadi ada, tapi tidak banyak," katanya kepada Kompas.

>>> Penjualan Mobil LCGC Turun 23 Persen, Tergerus Tren Mobil Listrik Murah

com, Jumat (12/6/2026).

Ia memperkirakan hanya sekitar 15 persen konsumen yang beralih. Mayoritas pengguna sistem sewa atau tukar baterai merasa skema itu paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Yang memilih sistem sewa atau tukar baterai memang membutuhkan kemudahan dan ketenangan, tidak khawatir jika baterai error atau rusak," ujar Abdul.

>>> Komunitas Pajero Xwild Nusantara Rayakan HUT ke-8 di Lampung

Skema Sewa dan Tukar Baterai

Konsep sewa dan tukar baterai awalnya dikembangkan untuk mengurangi beban finansial pembelian motor listrik. Pengguna tidak perlu memikirkan penurunan performa baterai karena pengelolaan menjadi tanggung jawab operator.

Pada sistem sewa, konsumen hanya membeli unit motor tanpa hak milik penuh atas baterai. Daya disediakan melalui langganan bulanan ke pabrikan.

Sementara pada skema tukar baterai, pengendara tidak perlu mengisi ulang sendiri. Mereka cukup mendatangi stasiun penukaran saat daya habis, melepas baterai kosong, dan menggantinya dengan yang terisi penuh.

>>> BMW Perkenalkan M Concept, Arah Baru Desain Mobil Listrik Performa Tinggi

Meski demikian, sebagian konsumen mulai memilih memiliki baterai sendiri. Fenomena ini menunjukkan perubahan preferensi di kalangan pengguna motor listrik.