Stres juga berisiko menurunkan kualitas tidur yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan janin.

>>> Pemerintah Terapkan Perlindungan Sosial Digital Atasi Bansos Tidak Tepat Sasaran

Dampak lain yang mengintai adalah meningkatnya risiko persalinan prematur atau melahirkan sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi prematur lebih rentan mengalami gangguan pernapasan serta masalah kesehatan jangka panjang.

Hambatan Nutrisi dan Perkembangan Otak

Tekanan mental yang hebat juga dapat memperkecil aliran darah ke plasenta. Akibatnya, pasokan oksigen dan nutrisi menjadi minim, sehingga memicu risiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada bayi.

Jurnal Nature Reviews Neuroscience menyebutkan kadar hormon stres yang tinggi pada ibu hamil dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf dan otak bayi.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan emosional atau perilaku anak di masa depan.

Secara psikologis, stres berkepanjangan meningkatkan risiko depresi antenatal maupun depresi pascapersalinan. Masalah ini juga mengganggu nafsu makan ibu, yang berujung pada ketidakseimbangan nutrisi harian.

Langkah Penanganan dan Pengelolaan Stres

Bantuan profesional dari dokter atau psikolog harus segera dicari jika stres berlangsung lebih dari dua minggu.

Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi sulit tidur harian, kecemasan berlebih, kehilangan minat beraktivitas, hingga munculnya pikiran menyakiti diri sendiri.

Untuk meringankan tekanan, ibu hamil disarankan menjaga pola tidur yang cukup dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Olahraga ringan yang aman untuk ibu hamil juga sangat membantu menjaga kebugaran tubuh.

Metode relaksasi, meditasi, dan latihan pernapasan dapat diterapkan untuk memberikan ketenangan pikiran.

>>> LPDP Tegaskan LoA Bukan Syarat Wajib untuk Daftar Beasiswa

Ibu hamil juga dianjurkan aktif berbagi cerita dengan pasangan atau keluarga, mengikuti kelas khusus, serta membatasi paparan informasi yang memicu kecemasan.