Namun, pelaksanaannya tetap harus mempertimbangkan kondisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR), likuiditas, serta kebutuhan ekspansi kredit masing-masing bank.

Menurutnya, efektivitas buyback dalam menopang harga saham sangat bergantung pada realisasinya.

Jika hanya sebatas wacana, dampaknya kemungkinan hanya bersifat sementara.

Sebaliknya, buyback yang dieksekusi secara konsisten dan dalam nominal yang memadai dapat menjadi penopang harga saham sekaligus memberikan sinyal bahwa manajemen dan pemerintah masih percaya terhadap valuasi emiten BUMN.

Dia memandang, langkah tersebut juga dapat membantu meredam kekhawatiran investor yang belakangan meningkat seiring volatilitas pasar.

Dalam jangka panjang, Ekky menyebut bahwa buyback berpotensi meningkatkan nilai bagi pemegang saham apabila dilakukan pada saat harga saham masih murah dan tidak mengganggu kebutuhan bisnis.

Pengurangan jumlah saham beredar dapat mendorong peningkatan laba per saham (earnings per share/EPS) dan imbal hasil bagi investor.

>>> Nintendo Batasi Pembelian Switch 2 Multi-Bahasa di Jepang untuk Cegah Scalper

Meski demikian, dia menegaskan bahwa kinerja fundamental tetap menjadi faktor utama yang menentukan prospek saham dalam jangka panjang, termasuk pertumbuhan kredit, kualitas aset, margin bunga bersih (net interest margin/NIM), dan efisiensi operasional.

Keputusan Buyback Disesuaikan dengan Kondisi Bank

Dari sisi strategi bisnis, Ekky menilai keputusan antara melakukan buyback atau memperkuat ekspansi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing bank.

Menurut dia, ekspansi tetap menjadi prioritas apabila prospek pertumbuhan kredit masih kuat dan kebutuhan modal meningkat.

Kendati begitu, ketika harga saham telah terkoreksi dalam, valuasi menjadi murah, dan posisi permodalan masih kuat, buyback dapat menjadi opsi yang layak dipertimbangkan.

"Jadi yang paling ideal adalah kombinasi ekspansi bisnis tetap berjalan, tetapi buyback dilakukan secara selektif dan terukur untuk menjaga kepercayaan pasar," tuturnya.