Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Hery Gunardi mengatakan bahwa setiap aksi korporasi akan melalui kajian yang matang dan dilakukan dengan mengacu pada ketentuan regulator yang berlaku.

"Terkait wacana buyback, setiap aksi korporasi tentu akan dikaji secara cermat dan dilaksanakan sesuai ketentuan regulator yang berlaku," kata Hery dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Hery yang juga merupakan Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) itu menegaskan, fokus utama BRI saat ini tetap pada penguatan fundamental perusahaan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Di sisi lain, fundamental industri perbankan nasional tetap kuat.

Hery, mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa kredit perbankan tumbuh 9,98% secara tahunan (year on year/YoY) hingga April 2026.

Pada saat yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 11,40% YoY.

Dia mengatakan, pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat menunjukkan kepercayaan publik terhadap industri perbankan masih terjaga dengan baik, sekaligus mencerminkan fungsi intermediasi yang berjalan efektif.

Bagi BRI, Hery menyebut bahwa penguatan kepercayaan pasar terutama dibangun melalui kinerja yang konsisten.

Untuk itu, perseroan terus fokus menjaga kualitas aset, memperkuat permodalan dan likuiditas, serta menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.

Senada, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Putrama Wahju Setyawan mengatakan bahwa kinerja bank pelat merah tetap solid.

Untuk itu, dia mengharapkan semua pihak tidak khawatir dan ragu terhadap kondisi pasar.

>>> UGM Terapkan PLTS Hybrid Agrovoltaic di Sleman untuk Dorong Smart Farming

"Saat ini kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus sehingga rasanya tidak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap kondisi fundamental di bursa," tegas Putrama beberapa waktu lalu.