Sektor pertanian terus mengadopsi kemajuan teknologi demi memenuhi kebutuhan pangan serta meningkatkan efisiensi energi. Salah satu terobosan yang kini gencar dikembangkan adalah penggabungan panel surya dengan lahan tanam.

Sistem integrasi antara produksi energi bersih dan budidaya tanaman ini populer dengan sebutan agrovoltaic.

>>> Amerika Serikat Hajar Paraguay 4-1 di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Inovasi ini diaplikasikan oleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat peluncuran PLTS Hybrid Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Inisiatif ini menjadi pilar penting dalam skema smart farming yang dikelola langsung oleh BUMDes Amarta bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Wastajap Bersinar.

Kehadiran teknologi tersebut diproyeksikan mampu menyediakan energi sekaligus menstimulasi kemandirian warga lokal berbasis energi terbarukan.

"Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan melalui penerapan teknologi PLTS Hybrid dan konsep agrivoltaic yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat," ujar ketua tim peneliti UGM, Ahmad Agus Setiawan.

Ahmad Agus Setiawan memaparkan bahwa mekanisme agrovoltaic memberikan keuntungan ganda karena satu hamparan lahan dapat mengemban dua peran sekaligus.

Tanah pertanian tetap produktif menghasilkan komoditas, sementara ruang di atasnya menyerap energi matahari untuk dikonversi menjadi listrik.

Di kawasan Desa Pandowoharjo, fasilitas modern ini dioperasikan guna menyokong operasional greenhouse.

Infrastruktur ini mengairi berbagai tanaman bernilai ekonomi seperti melon, cabai, pepaya, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, hingga terong.

Skema kelistrikan yang terpasang mengandalkan model PLTS Hybrid, yaitu perpaduan antara pasokan listrik jaringan dan sistem penyimpanan daya baterai.

>>> Hasil Piala Dunia 13 Juni 2026: Amerika Serikat Hajar Paraguay 4-1

Opsi ini dinilai memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi ketimbang sistem mandiri yang terpisah.