Mi instan telah menjadi makanan favorit lintas generasi karena rasanya gurih, harga murah, dan penyajian praktis. Namun, konsumsi berlebihan menyimpan risiko kesehatan yang serius.

Dokter ortopedi asal Mumbai, Dr. Manan Vora, memberikan peringatan keras melalui unggahan edukasi di Instagram.

>>> Kejagung Temukan Dugaan Penggelembungan Harga Motor Listrik Program MBG

Ia menegaskan bahwa mi instan bukan "instant comfort" melainkan "instant damage" jika dikonsumsi setiap hari.

Menurut dr. Vora, risiko kesehatan semakin meningkat akibat tren mi instan pedas ekstrem seperti Buldak ramen yang digandrungi Gen Z.

Tiga 'Rambu Merah' dalam Mi Instan

Dr. Vora membeberkan tiga unsur berbahaya yang hampir selalu ada dalam mi instan kemasan. Pertama, TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone), bahan pengawet sintetis yang dapat memicu stres oksidatif pada sel.

Kedua, kemasan cangkir polistirena yang saat disiram air panas berisiko melepaskan mikroplastik. Partikel ini dapat memicu peradangan dan iritasi usus jangka panjang.

Ketiga, bahan adiktif seperti MSG, pewarna, dan perisa sintetis yang dirancang untuk menimbulkan efek kecanduan. Kombinasi ini membuat konsumen ingin terus mengonsumsinya.

>>> Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 3% ke Level Terendah Tiga Bulan

Batas Aman Konsumsi Mi Instan

Meski minim nutrisi seperti protein, serat, kalsium, dan vitamin, mi instan masih boleh dikonsumsi dalam batas wajar. Rekomendasi medis menyebutkan batas aman maksimal dua bungkus per minggu.

Konsumsi lebih dari itu dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, terutama pada wanita.

Satu bungkus mi instan mengandung natrium hingga 88% dari batas anjuran harian WHO (2 gram), yang berisiko memicu hipertensi dan gangguan ginjal.

Untuk meminimalkan risiko, dokter menyarankan menambahkan sumber protein seperti telur, ayam, atau tahu serta sayuran hijau saat memasak mi instan.

>>> BRI Siapkan Dana Buyback Saham Maksimal Rp500 Miliar

Dengan begitu, kebutuhan gizi tetap seimbang.