Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 3% pada perdagangan Jumat (12/6/2026) dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Minyak mentah Brent ditutup turun US$ 3,05 (3,37%) ke US$ 87,33 per barel.

>>> BRI Siapkan Dana Buyback Saham Maksimal Rp500 Miliar

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 2,83 (3,23%) menjadi US$ 84,88 per barel.

Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya keyakinan pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Optimisme pasar menguat setelah muncul laporan mengenai penyusunan nota kesepahaman (MoU) kedua negara.

Langkah Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan udara ke Iran turut mendukung sentimen positif.

Seorang sumber mengindikasikan penandatanganan MoU untuk menghentikan perang di kawasan Teluk berpotensi dilakukan paling cepat pada Minggu (14/6/2026) di Jenewa, Swiss.

"Apa yang mendorong pasar turun adalah pernyataan dari Iran bahwa terdapat nota kesepahaman dengan AS," kata Mitra Again Capital John Kilduff.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman tersebut belum resmi ditandatangani dan isinya masih berpotensi berubah.

Fokus negosiasi tahap akhir dilaporkan pada isu nuklir dan ekonomi tanpa melibatkan program rudal.

>>> Pemerintah Florida Gugat OpenAI dan Sam Altman soal Keselamatan Pengguna

"Kepercayaan pasar semakin besar bahwa kesepakatan pada akhirnya akan tercapai dan Selat Hormuz akan kembali dibuka," ujar Analis PVM Oil Associates Tamas Varga.

Meski demikian, Varga mengingatkan bahwa stok minyak global dan regional masih berada pada level rendah.

Penutupan penuh Selat Hormuz sempat diumumkan oleh Iran yang juga mengancam akan menyerang kapal melintas.