Oleh karena itu, linimasa media sosial jangan langsung dianggap sebagai gambaran utuh dari keadaan.

Efek algoritma ini dapat memicu persepsi keliru, seolah-olah semua orang sedang marah, membenarkan kekerasan, atau menganggap seluruh informasi sebagai fakta.

"Padahal, belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi," kata Meutya.

Masyarakat juga diminta waspada terhadap ancaman hoaks, disinformasi, manipulasi video, serta potongan informasi tanpa konteks.

Ruang digital diharapkan tidak dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperbesar provokasi yang berpotensi memecah belah.

"Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang.

>>> UFC Gelar Laga Freedom 250 di Halaman Gedung Putih

Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab," pungkas Meutya.