Seorang pencuri di San Francisco menggunakan taksi robot otonom Waymo sebagai kendaraan pelarian setelah membobol sebuah studio yoga.

Namun, hingga hampir enam bulan kemudian, polisi belum berhasil menangkap pelaku.

>>> Pemerintah Pertahankan HET Minyakita Rp15.700 Per Liter

Insiden terjadi di kawasan Marina District pada Januari 2026. Pelaku hanya mengambil beberapa potong pakaian olahraga pria dalam waktu kurang dari tiga menit.

Awalnya, detektif yakin kasus ini mudah dipecahkan.

Taksi robot Waymo dilengkapi 29 kamera resolusi tinggi 360 derajat yang merekam situasi di dalam dan luar kendaraan.

Selain itu, setiap perjalanan harus dipesan melalui aplikasi yang terhubung dengan akun pengguna dan data pembayaran. Polisi mengira identitas pelaku bisa segera diketahui.

Namun, harapan itu pupus saat berhadapan dengan kebijakan privasi data Waymo.

Polisi baru mengajukan surat perintah penyitaan data pada April, tetapi Waymo sudah menghapus rekaman video internal karena batas retensi data.

>>> Fabio Quartararo Kecewa dengan Lambatnya Kemajuan Mesin V4 Yamaha

Waymo menyerahkan rekaman kamera luar, namun wajah orang-orang di luar kendaraan otomatis disensor demi melindungi privasi pejalan kaki.

Perusahaan juga tidak menggunakan teknologi pengenalan wajah.

Informasi akun aplikasi dan pembayaran yang digunakan untuk memesan taksi juga tidak mengarah pada identitas asli. Pelaku diduga menggunakan ponsel sekali pakai atau kartu kredit curian.

Kasus ini membuka diskursus baru tentang peran kendaraan otonom di ruang publik.

Meskipun mobil pintar seperti Tesla sering dijadikan sumber barang bukti, insiden Waymo menunjukkan bahwa teknologi canggih tidak selalu membantu penegakan hukum.

>>> IPC TPK Perluas Konektivitas Logistik dengan China Selatan

Ketika rekaman pengawasan disaring ketat, anonim, dan dibatasi masa simpannya demi privasi konsumen, manfaatnya bagi penyelidikan kriminal menjadi lumpuh.