Dua pria yang terlibat dalam pencurian perhiasan mahkota senilai 88 juta euro atau sekitar Rp1,8 triliun di Museum Louvre, Paris, pada Oktober lalu mengungkap fakta baru di hadapan penyidik.

Menurut pengakuan mereka, dalang di balik aksi tersebut justru merasa tidak puas dengan hasil rampokan karena menganggap mereka seharusnya bisa membawa lebih banyak barang curian.

>>> Spanyol Siapkan Senjata Taktik Fleksibel demi Tumbangkan Argentina di Final Piala Dunia 2026

Mengutip The Guardian, pengakuan itu berasal dari transkrip pemeriksaan yang diperoleh surat kabar Prancis Le Monde.

Dokumen tersebut memuat hasil interogasi terhadap dua tersangka, Abdoulaye N dan Ghelamallah A, oleh hakim penyidik yang menangani kasus perampokan tersebut.

Kasus ini sempat menjadi sorotan dunia hingga turut memicu pengunduran diri direktur Museum Louvre.

Dalam pemeriksaan, kedua tersangka mengaku membobol Galeri Apollo di Museum Louvre atas perintah seorang klien yang identitasnya masih mereka rahasiakan karena khawatir keselamatan keluarga mereka terancam.

Mereka berhasil membawa delapan buah perhiasan, mulai dari tiara, bros, kalung, hingga anting-anting.

Namun, saat melarikan diri, sebuah mahkota bertatahkan permata yang pernah dikenakan Permaisuri Eugénie, istri Kaisar Napoleon III, terjatuh dari tas mereka hingga mengalami kerusakan.

"Ya, itu saya. Mahkota itu jatuh dari tas saya," kata Abdoulaye N saat ditunjukkan foto mahkota yang rusak oleh penyidik.

Menurut Abdoulaye N, seluruh hasil curian kemudian diserahkan kepada sosok yang diduga menjadi dalang perampokan. Namun, orang tersebut justru tidak puas.

"Dia tidak senang. Dia pikir kami seharusnya bisa mengambil lebih banyak," ujar Abdoulaye N.

Kedua tersangka juga mengaku baru direkrut dua hingga tiga hari sebelum menjalankan aksinya.