Swiss Hadapi Dilema Pembatasan Populasi dan Pertumbuhan Ekonomi
>>> KPCDI Soroti Ketimpangan Akut Pelayanan Dialisis Nasional
Kepala Pemerintahan Basel Conradin Cramer mengatakan, pembatasan populasi akan menciptakan ketidakpastian bagi perusahaan yang selama ini mengandalkan pasokan tenaga kerja internasional.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan besar bisa saja meninjau ulang rencana ekspansi dan investasi jika akses terhadap talenta asing menjadi lebih sulit.
"Itu akan menjadi racun bagi ekonomi kami," ujarnya seperti dikutip Reuters, Jumat (12/6).
Roche menjadi salah satu perusahaan yang paling vokal menentang usulan tersebut.
Perusahaan farmasi itu mempekerjakan sekitar 12.400 orang di wilayah Basel dan memiliki karyawan dari 115 negara di seluruh Swiss.
Manajemen Roche khawatir pembatasan imigrasi akan menyulitkan perekrutan ilmuwan dan tenaga riset yang selama ini menjadi fondasi keunggulan inovasi Swiss.
Kepala fasilitas Roche di Basel, Juerg Erismann, menegaskan posisi Swiss sebagai pusat inovasi global bergantung pada kemampuan menarik talenta terbaik dari berbagai negara.
Menurutnya, pembatasan tersebut tidak hanya mengancam aktivitas penelitian, tetapi juga lapangan kerja di seluruh rantai pasok industri.
Kekhawatiran itu muncul pada saat industri farmasi Swiss juga menghadapi tantangan eksternal. Produk kimia dan farmasi menyumbang lebih dari separuh total ekspor Swiss.
Dalam beberapa waktu terakhir, Roche dan Novartis sempat menghadapi ancaman tarif dari Amerika Serikat sebelum akhirnya terhindar dari beban tarif yang lebih besar melalui komitmen investasi di pasar AS.
Pemerintah Swiss sendiri telah meminta masyarakat menolak proposal pembatasan populasi tersebut.
Meski demikian, tingginya biaya sewa rumah, kepadatan transportasi publik, serta meningkatnya biaya hidup menjadi isu yang berpotensi memengaruhi pilihan pemilih.
>>> Bank Indonesia Perluas Interkoneksi QRIS ke Pasar Cina
Bagi dunia usaha, hasil referendum ini tidak hanya menentukan kebijakan imigrasi Swiss, tetapi juga akan menjadi sinyal penting mengenai seberapa terbuka negara tersebut terhadap investasi dan tenaga kerja global di masa depan.
Update Terbaru
TVRI Siarkan Langsung Laga Pembuka Piala Dunia 2026 Meksiko vs Afrika Selatan Malam Ini
Jumat / 12-06-2026, 19:12 WIB
BI Rate Naik ke 5,5%, Likuiditas Bank KBMI 1 Tertekan
Jumat / 12-06-2026, 19:11 WIB
Kemesraan di Media Sosial: Antara Ekspresi Cinta dan Risiko Hubungan
Jumat / 12-06-2026, 19:11 WIB
Higgs Games Island Gaet Luis Figo, Dorong Ekosistem Game Mobile Indonesia ke Level Global
Jumat / 12-06-2026, 19:09 WIB
Studi PNAS: Model AI Modern Berhasil Lolos Turing Test
Jumat / 12-06-2026, 19:09 WIB
BYD Indonesia Catat 20 Ribu Calon Konsumen untuk M6 DM
Jumat / 12-06-2026, 19:09 WIB
Ronaldo Nazario Jagokan Spanyol dan Prancis Juara Piala Dunia 2026
Jumat / 12-06-2026, 19:08 WIB
Pemerintah India Batasi Pembelian Solar untuk Konsumen Besar di SPBU
Jumat / 12-06-2026, 19:08 WIB
BI Proyeksikan Indeks Penjualan Riil Mei 2026 Turun 3,2 Persen
Jumat / 12-06-2026, 19:08 WIB
Viral Taylor Swift-Kylie Jenner Pelukan, Ini Kata Ahli Gestur
Jumat / 12-06-2026, 19:07 WIB
Kanada dan AS Gelar Laga Perdana Piala Dunia 2026 pada 13 Juni
Jumat / 12-06-2026, 19:06 WIB
5 Kafe Hidden Gem di Tebet yang Tenang dan Nyaman
Jumat / 12-06-2026, 19:06 WIB
Trump Setujui Pengenceran Uranium Iran di Bawah Pengawasan PBB
Jumat / 12-06-2026, 19:05 WIB
Dua Ganda Putri Indonesia Lolos ke Semifinal Australian Open 2026
Jumat / 12-06-2026, 19:05 WIB






