Swiss menghadapi dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan meredam kekhawatiran publik terhadap lonjakan jumlah penduduk.

Dalam referendum yang akan digelar Minggu (14/6), warga Swiss akan menentukan nasib usulan pembatasan populasi yang dinilai kalangan bisnis dapat mengancam daya saing ekonomi negara tersebut.

>>> Elon Musk Dekati Status Triliuner Pertama Usai IPO SpaceX Cetak Rekor

Kekhawatiran terbesar datang dari sektor farmasi dan bioteknologi, salah satu mesin utama ekonomi Swiss.

Industri ini sangat bergantung pada tenaga kerja asing berkeahlian tinggi, terutama untuk kegiatan riset dan pengembangan.

Basel menjadi contoh nyata ketergantungan tersebut.

Kota yang berbatasan dengan Jerman dan Prancis itu merupakan pusat industri farmasi global dan rumah bagi dua raksasa obat, Roche dan Novartis.

Selama beberapa dekade, pertumbuhan ekonomi Basel melampaui rata-rata nasional.

Sekitar 40% penduduknya merupakan warga negara asing dan produk domestik bruto (PDB) per kapita kota tersebut hampir 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata Swiss.

Namun model pertumbuhan tersebut kini menghadapi tantangan.

Partai Rakyat Swiss (Swiss People's Party/SVP) mengusulkan agar jumlah penduduk negara itu tidak mencapai 10 juta jiwa hingga tahun 2050.

Saat ini populasi Swiss telah melampaui 9 juta jiwa dan diperkirakan menyentuh angka 10 juta sekitar tahun 2042 apabila tren saat ini berlanjut.

SVP beralasan pertumbuhan penduduk yang cepat telah meningkatkan tekanan terhadap perumahan, layanan publik, dan transportasi.

Partai yang dikenal kritis terhadap Uni Eropa itu juga mengusulkan penghentian kebebasan bergerak warga dengan Uni Eropa apabila batas populasi tersebut terlampaui selama dua tahun berturut-turut.

Kalangan pelaku usaha menilai kebijakan itu dapat berdampak negatif terhadap iklim investasi.