Kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam meniru perilaku manusia semakin pesat. Sebuah studi terbaru di jurnal PNAS membuktikan hal ini melalui Turing Test.

Turing Test pertama kali diperkenalkan oleh matematikawan Alan Turing pada 1950. Tes ini menjadi tolok ukur kemampuan mesin meniru manusia.

>>> Viral Taylor Swift-Kylie Jenner Pelukan, Ini Kata Ahli Gestur

Peneliti menguji empat model AI: GPT-4.5, Llama-3.1-405B, GPT-4o, dan chatbot klasik Eliza dari 1960-an. Peserta berkomunikasi secara teks dengan dua pihak yang dirahasiakan identitasnya.

Keberhasilan AI diukur dari ketidakmampuan peserta membedakan manusia dan mesin. GPT-4.5 mencatat performa tertinggi, dinilai sebagai manusia dalam 73 persen interaksi.

"Artinya, peserta lebih sering menandainya sebagai 'manusia' dibanding manusia yang sesungguhnya," kata peneliti.

Llama-3.1-405B memperoleh skor 56 persen. Sementara Eliza hanya 23 persen dan GPT-4o 21 persen.

>>> Daftar Pemain Drama Korea Teach You a Lesson, dari Kim Mu-yeol hingga Lee Sung-min

Penulis studi Cameron Jones mengatakan model AI modern tidak hanya mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga pandai meniru manusia.

Namun, peneliti mencatat AI belum sepenuhnya mandiri. Semua model diberi instruksi khusus untuk mengadopsi karakter tertentu, seperti menunjukkan keraguan atau humor.

Tanpa instruksi tersebut, performa GPT-4.5 turun ke 36 persen dan Llama-3.1-405B ke 38 persen.

>>> Zimbra Ungkap 4 Strategi Perkuat Pertahanan Siber UMKM Indonesia

Penulis studi Ben Bergen menilai temuan ini bukti potensi besar AI menyerupai manusia. Namun, sistem belum tentu mampu melakukannya tanpa arahan khusus.