Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5% memicu perubahan strategi pendanaan di sektor perbankan.

Tekanan terbesar diperkirakan akan dialami oleh kelompok bank kecil, khususnya Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti 1 (KBMI 1).

>>> Kemesraan di Media Sosial: Antara Ekspresi Cinta dan Risiko Hubungan

Persaingan dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK) semakin ketat. Sebelum kebijakan ini, total DPK pada kelompok tersebut sudah menunjukkan tren penurunan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total simpanan masyarakat di bank KBMI 1 per Maret 2026 sebesar Rp 928,36 triliun.

Angka itu menyusut 0,57% dari bulan sebelumnya dan turun 1,17% dibanding Januari 2026.

Dampak pada Bank Kecil

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menjelaskan bahwa bank KBMI 1 akan merasakan tekanan lebih besar dibanding bank besar saat suku bunga acuan naik.

Kondisi ini memicu perpindahan dana ke tempat yang dianggap lebih aman.

Menurut Rahma, nasabah kelas atas cenderung memindahkan simpanan dari bank kecil ke bank besar. Ada pula potensi pengalihan dana ke instrumen investasi lain dengan imbal hasil tinggi.

Manajemen bank KBMI 1 pun tidak punya pilihan selain menaikkan suku bunga simpanan untuk mencegah keluarnya dana. Namun, kebijakan ini menyebabkan pembengkakan biaya dana atau cost of fund.

Mayoritas bank KBMI 1 masih sangat bergantung pada deposito sebagai sumber pendanaan utama.

Rahma melihat ada dua opsi logis: merger dengan korporasi lain atau bertahan mandiri dengan modal kuat.

"Bagi bank KBMI 1 yang strukturnya generik dan modalnya pas-pasan, bersikeras jalan sendiri justru berisiko tergilas oleh efisiensi bank digital dan bank raksasa," kata Rahma, Jumat (12/6/2026).