Namun, persaingan dari kamera smartphone dan terutama dari DJI asal China menggerus pangsa pasar GoPro.

DJI masuk ke pasar kamera aksi lewat seri Osmo Action, Osmo Pocket, dan Osmo 360, menawarkan spesifikasi setara atau lebih baik dengan harga lebih kompetitif.

Banyak content creator beralih karena nilai lebih yang ditawarkan DJI.

Selain persaingan, kenaikan harga memori global akibat permintaan dari infrastruktur AI dan data center juga menghantam GoPro. Biaya produksi melonjak, margin keuntungan tergerus, dan kondisi keuangan semakin memburuk.

Untuk bertahan, GoPro telah melakukan PHK terhadap 23% karyawan atau sekitar 145 posisi.

Perusahaan juga menyewa penasihat keuangan untuk mencari jalan keluar, termasuk kemungkinan menjual perusahaan atau mencari mitra bisnis.

Dewan direksi GoPro telah mengumumkan peninjauan terhadap alternatif strategis, seperti penjualan, merger, atau transaksi lain. GoPro juga mulai melirik sektor pertahanan dan aerospace sebagai diversifikasi bisnis.

>>> Meksiko Taklukkan Afrika Selatan 2-0 dalam Laga Pembuka Bertabur Kartu Merah

Meskipun mengeluarkan peringatan going concern, GoPro masih beroperasi dan merilis produk baru. Namun, masa depan perusahaan sangat bergantung pada negosiasi dengan kreditur dan kemampuan menarik investor atau pembeli.