Bank Sentral Eropa (ECB) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,25% pada Kamis (11/6/2026).

Keputusan ini diambil setelah Gubernur ECB Christine Lagarde memperingatkan meluasnya lonjakan inflasi akibat dampak perang di Iran.

>>> AS dan Iran Negosiasikan Kesepakatan Damai di Tengah Eskalasi Militer

Langkah pengetatan moneter ini merupakan respons terhadap risiko guncangan harga energi di Timur Tengah yang telah berlangsung selama empat bulan.

Proyeksi kuartalan terbaru ECB menunjukkan indeks harga konsumen akan meningkat lebih cepat tahun ini, sebelum diproyeksikan kembali ke target 2% pada 2028.

Pasar obligasi Eropa merespons positif dengan penurunan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sebesar tiga basis poin ke 3,05%, sementara euro stabil di US$1,1538.

Langkah ECB ini menjadi respons pertama dari bank sentral utama dunia terhadap lonjakan harga minyak global.

"Guncangan ini mulai meluas ke seluruh lini perekonomian, di mana biaya langsung terlihat jelas dan biaya tidak langsung juga mulai bermunculan," ujar Lagarde.

Keputusan diambil secara bulat untuk mencegah inflasi melonjak tanpa kendali yang dapat mempersulit upaya pengembalian stabilitas harga di masa depan.

Lagarde menambahkan, risiko terbesar adalah jika ECB tidak mengambil keputusan ini, karena membiarkan inflasi melonjak akan membuat situasi jauh lebih sulit.

>>> Polisi Alihkan Arus Lalu Lintas di Bundaran HI Imbas Demo BEM UI

Tingginya biaya pinjaman saat ini memicu kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi di 21 negara zona euro, terutama setelah kontraksi ekonomi Irlandia pada kuartal pertama.

"Perang di Timur Tengah membebani aktivitas ekonomi, dan berbagai survei menunjukkan perlambatan, terutama di sektor jasa," kata Lagarde.