Beberapa jam sebelum pengumuman damai, eskalasi sempat memuncak ketika Trump mengancam akan merebut infrastruktur migas Iran di Pulau Kharg.

"Pada suatu saat dalam waktu dekat, kami akan mengambil Pulau Kharg dan titik infrastruktur minyak lainnya, serta mengambil kendali penuh atas pasar minyak dan gas mereka, seperti yang kami lakukan dengan Venezuela," kata Trump.

Ancaman tersebut memicu kritik dari dalam negeri AS karena dinilai membahayakan personel militer di lapangan.

Senator Demokrat Ruben Gallego mengatakan, "Saya pikir dia menempatkan pria dan wanita kami dalam bahaya yang sangat keras… Pulau Kharg adalah tempat yang sangat kecil dan padat, tidak sulit untuk menargetkan formasi militer kami."

Parlemen Iran merespons keras ancaman operasi militer AS tersebut.

Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan bahwa "presiden AS akan menerima respons yang lebih kuat dan lebih menyakitkan jika dia membuat langkah yang tidak diperhitungkan."

Situasi memanas setelah kedua negara saling melepaskan tembakan berturut-turut, dipicu oleh jatuhnya helikopter AS di Selat Hormuz.

>>> Saham BBRI Melemah ke Rp2.850 Setelah Sempat Menguat

"Perang ini," pungkas seorang pejabat Iran kepada Reuters.