>>> UIN Malang Integrasikan Sistem Pesantren dan Universitas Lewat Ma'had Al-Jamiah

Melambungnya harga minyak akibat eskalasi geopolitik sempat memperkuat asumsi bahwa era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

Emas secara teori berfungsi sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi.

Namun, tingkat suku bunga yang tinggi secara historis mengurangi daya tarik investasi pada logam mulia tak berimbal hasil ini.

Berdasarkan data CME FedWatch pasca-keputusan Trump, peluang kenaikan suku bunga AS pada pertemuan Desember mendatang langsung melandai ke angka 62% dari posisi sebelumnya yang mencapai 69%.

Pada saat bersamaan, laporan ketenagakerjaan AS memperlihatkan klaim pengangguran mingguan naik menjadi 229.000 untuk pekan yang berakhir 6 Juni.

Angka tersebut lebih tinggi daripada proyeksi Reuters yang mematok 219.000 klaim.

Di sisi lain, inflasi produsen AS untuk periode Mei dilaporkan melonjak melampaui estimasi pasar.

Sehari sebelumnya, data inflasi konsumen AS juga tercatat tumbuh dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir akibat reli harga sektor energi.

Para pelaku pasar saat ini memfokuskan perhatian pada agenda rapat The Fed pekan depan.

Pertemuan tersebut akan menjadi momen perdana di bawah kendali Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, di mana bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan.

Tren penguatan ini tidak hanya dinikmati oleh emas, melainkan juga merembet ke komoditas logam mulia lainnya pada perdagangan yang sama.

>>> PT Dairi Prima Mineral Peroleh Adendum AMDAL dengan Teknologi Modern

Harga perak spot tercatat melonjak 6,21% ke US$ 67,34 per ons, platinum melejit 3,4% menjadi US$ 1.723,14 per ons, dan paladium melesat hingga 4,34% menuju posisi US$ 1.271,15 per ons.